Kumpulan Materi Kuliah Keperawatan

A fine WordPress.com site

Plasenta Previa

Tinggalkan komentar

Plasenta Previa
A. Teori Medis
1. Definisi
Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus,sehingga dapat menutupi sebagaian atau seluruh jalan lahir.( Sarwono 2011 )
Sedangkan plasenta previa letak rendah merupakan klasifikasi dari plasenta previa dan Dikutip dari Prof. Sulaiman Sastrowinata. Obstetri Fisiologi. 2000. Bandung. Berdasarkan pendapat beliau plasenta letak rendah (Low Lying Placenta) adalah tepi plasenta berada 3 – 4 cm diatas pinggir pembukaan. Pada pemeriksaan dalam tidak teraba. Dan plasenta yang implantasinya rendah tapi tidak sampai keostium uteri internum.
2. Klasifikasi
Menurut penulis buku-buku Amerika Serikat tali pusat berhubungan dengan plasenta biasanya ditengah keadaan ini biasanya disebut dengan Insersia Sentralis. Letak plasenta umumnya berada didepan/dibelakang dinding uterus. Agak keatas kearah fundus uteri hal ini fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi. Bila diteliti benar maka plasenta sebenarnya berasal dari sebagian besar dari bagian janin, yaitu Villi Korealis yang berasal dari korion dan sebagian kecil dari ibu yang berasal dari desida basalis. Menurut Browne klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu, yaitu:
a. Plasenta Previa Totalis
Bila plasenta menutupi seluruh jalan lahir pada tempat implantasi jelas tidak mungkin bayi dilahirkan in order to vaginam (normal/spontan/biasa), karena risiko perdarahan sangat hebat.
b. Plasenta Previta Parsialis
Bila hanya sebagian/separuh plasenta yang menutupi jalan lahir. Pada tempat implantasi inipun risiko perdarahan masih besar dan biasanya tetap tidak dilahirkan melalui pervaginam.
c. Plasenta Previa Marginalis
Bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir bisa dilahirkan pervaginam tetapi risiko perdarahan tetap besar.
d. Low Lying Placenta (Plasenta Letak Rendah)
Lateralis plasenta atau kadang disebut juga plasenta berbahaya tempat implantasi beberapa millimeter atau cm dari tepi jalan lahir risiko perdarahan tetap ada, namun bisa dibilang kecil, dan bisa dilahirkan pervaginam dengan aman. Pinggir plasenta berada kira-kira 3 atau 4 cm diatas pinggir pembukaan, sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir.
3. Etiologi
Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. Sinopsis Obstetri. 2001. Jakarta. Beberapa faktor dan etiologi dari plasenta previa tidak diketahui. Tetapi diduga hal tersebut berhubungan dengan abnormalitas dengan asal dari vaskularisasi endometrium yang mungkin disebabkan oleh timbulnya parut akibat trauma operasi/infeksi. Perdarahan berhubungan dengan adanya perkembangan segmen bawah uterus pada trimester ketiga. Plasenta yang melekat pada area ini akan rusak akibat ketidakmampuan segmen bawah rahim. Kemudian perdarahan akan terjadi akibat ketidakmampuan segmen bawah rahim untuk berkonstruksi secara adekuat. Faktor risiko plasenta previa termasuk:
a. riwayat plasenta previa sebelumnya
b. Riwayat seksio sesarea
c. Riwayat aborsi
d. Riwayat kehamilan ganda
e. Umur ibu yang telah lanjut, wanita lebih dari 35 tahun
f. Multiparitas, apalagi bila jaraknya singkat. Secara teori plasenta yang baru berusaha mencari tempat selain bekas plasenta berikutnya.
g. Adanya gangguan anatomis/tumor pada rahim. Sehingga mempersempit permukaan bagi penempatan plasenta.
h. Adanya jaringan rahim pada tempat yang bukan seharusnya. Misalnya dari indung telur setelah kehamilan sebelumnya atau endometriosis.
i. Adanya trauma selama kehamilan
j. Social ekonomi rendah/gizi patofisiologi dimulai dari usia kehamilan 30 minggu segmen bawah uterus akan terbentuk dan mulai melebar serta menipis.
k. Mendapat tindakan kuretase. Dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah uterus akan lebih melebar lagi dan serviks mulai membuka.
Apabila plasenta tumbuh pada segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat disitu tanpa terlepasnya sebagian plasenta dari dinding uterus. Pada saat itu mulailah terjadi perdarahan. Darah yang keluar berwarna merah segar, berlainan dengan darah yang disebabkan oleh solusio plasenta yang berwarna kehitam-hitaman. Sumber perdarahannya adalah sinus uterus yang sobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta.
4. Patofisiologi
Perdarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 10 minggu saat segmen bawah uterus membentuk, melebar serta menipis, umumnya terjadi padatrismester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan servik menyebabkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal.
Perdarahan tidak dapat dihindari karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak sebagaimana serabut otot uterus yang menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini daripada pada plasenta letak rendah yang mungkin baru berdarah setelah persalinan dimulai.
Anamnesis perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 28 minggu berlangsung tanpa rasa nyeri, berwarna merah segar, tanpa alasan terutama pada multigravida. Banyaknya perdarahan tidak dapat dilihat dan dinilai dari anamnesa, melainkan dari pemeriksaan hematokrit. Pemeriksaan luar bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul. Sering disertai dengan kelainan letak janin, seperti letak lintang atau letak sungsang.

5. Tanda dan gejala
Menurut Departemen Kesehatan RI. 2000. Jakarta. Gejala Utama Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang berwarna merah segar, tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri.
a. Gejala Klinik
1) Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.
2) Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit.
3) Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang.
4) Bagian terbanyak janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin letak janin (letak lintang atau letak sungsang)
5) Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan, sebagian besar kasus, janinnya masih hidup.
6. Komplikasi
Pada ibu dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia karena perdarahn. Plaentitis, dan endometritis pasca persalinan. Pada janin biasanya terjadi persalinan premature dan komplikasinya seperti asfiksia berat.
7. Diagnosis
Untuk mendiagnosis perdarahan diakibatkan oleh plasenta previa diperlukan anamnesis dan pemeriksaan obstetrik. Dapat juga dilakukan pemeriksaaan hematokrit. Pemeriksaan bagian luar terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul. Apabila presentasi kepala, biasanya kepalanya masih terapung diatas pintu atas panggul atau mengolah kesamping dan sukar didorong kedalam pintu atas panggul.
Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar. 1998. Jakarta. Sering disertai dengan kelainan letak janin, seperti letak lintang atau letak sungsang. Pemeriksaan inspekulo bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan serviks atau vagina seperti erosro porsionis uteri, karsinoma porsionis uteri polipus serviks uteri, varises vulva dan trauma. Apabila perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum adanya plasenta previa harus dicurigai. Membandingkan diagnosis plasenta dengan solusio plasenta.
8. Penatalaksanaan umum
Sebelum dirujuk, anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap kekiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut( misalnya batuk, mengedan karena sulit buang besar ) perhatikan : tidak dianjurkan untuk pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum sebelum tersedia persiapan untuk seksio sesarea.

a. Pentalaksanaan di rumah pada kasus plasenta previa
Paseien dianjurkan harus istirahat ditempat tidur. Jika perdarahan banyak pasien dianjurkan untuk tidur miring atau menggunakan bantal bawah pinggul kanannya untuk mencapai agar panggul miring dan menghindari supine hypotensive syndrome. Perdarahan hebat yang terjadi akan memperlihatkan kondisi pucat, berkeringat, gelisah, merasa haus, denyut nadi meningkat dan tekanan darah menurun.
b. Penatalaksanaan di RS
Dirumah sakit ibu harus berbaring kadang-kadang perdarahan terjadi setelah coitus kemungkinan adanya riwayat spoting. Pada pemeriksaan abdomen akan teraba lunak dengan ukuran sesuai umur kehamilan. Sulit untuk membedakan antara plasenta previa dengan abrupsio plasenta. Abrupsio plasenta ada hubungan dengan preeklmsia dimana dengan presentasi dan fiksasi kepala janin normal. Demikian tidak adanya preeklmsia dan adanya beberapa ketidaknormalan yang ditemukan merupakan bukti terjadinya plasenta previa. Mungkin dibutuhkan pengkateteran. Darah diperiksa kadar hemoglobin dan dilakukan uji cleihauer jika resus negative dan setidaknya 2 kantong darah harus tersedan ketentuania.

c. Observasi
Pemantauan suhu, nadi, tekanan darah dan denyut jantung janin harus dilakukan. Nadi dan tekanan darah dicatat lebih sering dengan ketentuan tiap seperempat jam jika perdarahan berlanjut. Denyut jantung janin harus selalu dipantau dengan cardiotocography jika perdarahan menetap. Urin diperiksa kadar protein ju=ika perdarahan hebat, diberikan pada infus intra vena dapat dimulai jika perdarahan menetap dan dipertahankan sampai perdarahan berhenti. Wanita tersebut harus ditempat tidur sampai perdarahan berhenti.
B. Teori Manajemen Varney
Varney ( 1997 ) menjelaskan bahwa proses manajemen merupakan proses pemesahan masalah yang ditemukan oleh perawat-bidan pada awal 1970-an. Proses ini memperkenalkan sebuah metode dengan pengorganisasian pemikiran dan tindakan-tindakan dengan urutan yang logis dan menguntungkan baik bagi klien maupun bagi tenaga kesehatan. Proses ini menguraikan bagaimana perilaku yang diharapkan dari pemberi asuhan. Proses manajemen ini bukan hanya terdiri dari pemikiran dan tindakan saja melainkan juga pemeriksaan pada setiap langkah agar pelayanan yang komprehensif dan aman dapat tercapai. Dengan demikian proses manajemen harus mengikuti aturan yang logis dan memberikan pengertian yang menyatakan pengetahuan, hasil temuan dan penilaian yang terpisah-pisah menjadi satu kesatuan yang berfokus pada manajemen klien.
Proses manajemen terdiri dari 7 langkah yang berurutan dimana setiap langkah disempurnakan secara periodic. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu kerangan lengkap yang dapat diuraikan lagi menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut :
1. Langkah I : Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah pertama ini dilakukan pekerjaan dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap, yaitu :
a. Riwayat kesehatan
b. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhannya
c. Meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya
d. Meninjau data laboratorium dan membandingkannya dengan hasil studi.
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan denga kondisi klien. Bidan mengumpulkan data dasar awal yang lengkap. Bila klien menglami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter dalam manajemen kolaborasi bidan akan melakukan konsultasi. Pada keadaan tertentu dapat terjadi langkah pertama akan overlap dengan langkah 5 dan 6 ( atau menjadi bagian dari langkah tersebut ) karena data yang diperlukan diambil dari hasil pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan diagnostic yang lain. Kadang-kadang bidan perlu memakai manajemen dari langkah 4 untuk mendapatkan data dasar awal yang perlu disampaikan kepada dokter.

2. Langkah II : Interprestasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa dan kebutuhan klien berdasarkan interprestasi yang benar atau data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterprestasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnose yang spesifik. Kata masalah dan diagnosa keduanya digunakan, karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnosa tetapi sungguh membutuhkan penanganan yang dituangkan kedalam sebuah rencana asuhan terhadap klien.
Masalah sering berkaitan dengan pengalaman wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan pengarahan. Masalah ini sering menyertai diagnosa. Sebagai contoh diperoleh diagnosa “kemungkinan wanita hamil”, dan masalah yang berhubungan dengan diagnosa ini ialah bahwa wanita tersebut mungkin tidak menginginkan kehamilannya. Contoh lain yaitu wanita pada trimester ketiga merasa takut tidak termasuk dalam kategori nomenklatur standar diagnose. Tetapi tentu akan menciptakan suatu masalah yang membutuhkan pengkajian lebih lanjut dan memerlukan suatu perencanaan untuk mengurangi rasa takut.

3. Langkah III : Mengindentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Pada masalah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diindentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.
Pada langkah ini penting sekali melakukan asuhan yang aman. Contoh seorang wanita dengan pemuaian uterus yang berlebihan tersebut ( misalnya plasenta previa, polihdramnion besar dari masa kehamilan ) kemudian ia harus melakukan perencanaan untuk mengatasinya dan bersiap-siap terhadap kemungkinan tiba-tiba terjadi perdarahan yang disebabkan oleh plasenta previa.

4. Langkah IV : Identifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Mengidentifiksi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota klien tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi menejemen bukan hanya selama asuhan primer periodic atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus-menerus. Misalnya pada waktu wanita tersebut ada dalam persalinan

5. Langkah V : Merencanakan Asuhan Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan lanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau antisipasi pada langkah ini informasi atau data dasar yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya apa yang sudah diidentifikasikan dari kondisi klien atau siapa masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling dan apakah dengan sosial, ekonomi, cultural, atau masalah psikologis.
Dengan perkataan lain, asuhan terhdap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan kesehatan. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dank lien, agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien juga akan melaksanakan rencana tersebut.
Oleh karena itu, pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana bersama klien, kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.
Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan penyuluhan ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetauan dan teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan atau tidak akan dilakukan klien.
Rasional yang berdasarkan asumsi yang tidak sesuai dengan keadaan klien dan pengtahuan teori yang salah atau tidak memadai atau berdasarkan suatu data dasar yang tidak lengkap, bisa dianggp tidak valid dan akan menghasilkan asuhan klien yang tidak lengkap dan berbahaya.

6. Langkah VI : Melaksanakan Perencanaan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau anggota tim kesehatan lainnya, apabila bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.
Pelaksanaan perencanaan bertujuan untuk mengatasi diagnose kebidanan, masalah pasien sesuai rencana yang telah dibuat pelaksanan tersebut hendaknya dibuat secara sistematis agar asuhan kebidanan dapat dengan baik.
7. Langkah VII : Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, meliputi pemenuhan kebutuhan sebagaimana telah didentifikasi didalam diagnose dan masalah, serta mengevaluasi apakah diagnose potensial muncul dan apakah tindakan antisipasi dilakukan. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.
Ditujukan untuk mengevaluasi hasil tindakan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan akan bantuan dan evaluasi hasil tindakan untuk mengatasi masalah yang muncul.

B. Teori Penerapan Manajemen Varney
Manajemen kebidanan adalah pendekatan dan kerangka pikir yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis (KepMenKes, 2007:5).
Penulis menerapkan manajemen kebidanan menurut Hellen Varney yang terdiri dari :
I. Pengkajian
a. Data subyektif
Data subyektif merupakan pernyataan yang disampaikan oleh pasien dan dicatat sebagai kutipan langsung dan hanya mencatat tanda-tanda dan perilaku klien tanpa membuat tafsiran atau kesimpulan, adapun data subyektif terdiri dari :
1) Identitas
Nama ditanyakan untuk mengenal pasien. Umur untuk mengetahui faktor resiko dilihat dari umur pasien. Umur 35 tahun atau lebih mempunyai komplikasi yang lebih besar. Agama berguna memberikan motivasi sesuai dengan kepercayaan pasien. Suku/bangsa digunakan untuk mengetahui faktor bawaan atau ras. Menurut Saifuddin (2010) pendidikan ditanyakan untuk mengetahui tingkat pendidikan yang penting dalam memberikan pendidikan kesehatan. Pekerjaan untuk mengetahui pengaruh pekerjaan terhadap kesehatan pasien. Penghasilan untuk mengetahui status ekonomi pasien.Alamat untuk mengetahui lingkungan tempat tinggal pasien (varney, 2010:31).
2) Keluhan
Apa yang dirasakan pasien dalam kaitannya dengan sering BAK.
3) Data kebidanan
a. Riwayat haid
Menarche untuk mengetahui kematangan fungsi alat reproduksi pada umur berapa. Siklus haid untuk mengetahui siklus pendek, panjang, teratur atau tidak. Keluhan selama haid, HPHT, untuk mengetahui haid terakhir ibu yang berguna untuk menentukan perkiraan bayi lahir (Varney, 2010:33)

b. Riwayat kehamilan sekarang
Mengetahui ibu hamil yang keberapa, pernah aborsi, pernah bersalin atau belum, keluhan yang berhubungan dengan kehamilannya untuk mengetahui status kehamilan ibu, serta imunisasi dan terapi yang telah ibu dapatkan.Keluhan ibu digunakan sebagai dasar dalam memberikan pengobatan (Pusdiknakes, 2003:38).
c. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Mengetahui riwayat kehamilan yang lalu sudah berapa kali ibu hamil, dan apakah pernah mengalami keguguran. Menanyakan berapa jumlah anak yang hidup, serta menanyakan apakah ibu pernah mengalami kesulitan atau komplikasi saat kehamilan, persalinan maupun nifas (Pusdiknakes, 2003:49).
d. Riwayat kontrasepsi
Perlu ditanyakan untuk mengetahui kontrasepsi yang digunakan saat ini, efek samping penggunaan kontrasepsi, konsistensi penggunaan dan lamanya penggunaan kontrasepsi. Serta perlu ditanyakan juga penggunaan alat kontrasepsi seelumnya dan alasan penghentian kontrasepsi tersebut (Varney, 2010:33).

4) Data kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat kesehatan sekarang ditanyakan untuk mengetahui status kesehatan ibu saat ini, apakah ibu sedang menderita suatu penyakit berbahaya seperti penyakit jantung.
Dalam kehamilan perlu ditanyakan karena penyakit jantung dapat menyebabkan abortus, premarturitas, dismaturitas, dan kematian janin dalam rahim. PMS, dalam kehamilan dapat menyebabkan infeksi pada janin, partus prematurus dan dapat terjadi kelainan congenital pada janin. (Pusdiknakes, 2003;50; Mochtar 2008:182).
5) Data kebiasaan sehari-hari
a. Nutrisi
Pemenuhan nutrisi perlu ditanyakan untuk mengetahui asupan gizi ibu, antara lain: bagaimana frekuensi, porsi, kualitas makan sebagai gambaran keadaan ibu sebelum dan sesudah hamil. Jenis dan jumlah minum ibu serta ada keluhan atau tidak dalam makan sehari-hari. Ibu mempunyai kebiasaan pantang makan atau tidak. Wanita hamil sebaiknya mengkonsumsi makanan yang gizinya seimbang, termasuk buah-buahan dan sayur-sayuran (Mochtar, 2008:59).

b. Eliminasi
Pola eliminasi ketika hamil penting diketahui, apakah ada gangguan pola eliminasi. Menggambarkan berapa kali sehari ibu hamil BAK, BAB serta konsistensi fasesnya karena pada saat hamil ibu mengalami perubahan pada system traktus digestivus (Mochtar, 2008:44).
c. Pola seksual
Berapa kali seminggu selama hamil dan sebelum hamil serta ditanyakan apakah ada keluhan (Varney, 2007:33).
d. Personal Hygiene
Personal hygiene perlu ditanyakan untuk mengetahui kebersihan atau hygiene ibu terutama perawatan kulit karena kulit berfungsi untuk ekskresi. Kesehatan ibu hamil terjaga atau tidak dapat dikaji personal hygiennya, berapa kali ibu mandi dalam sehari, keramas dalam seminggu, ganti baju, sikat gigi berapa kali dalam sehari (Mochtar, 2008:61).
e. Istirahat
Istirahat dan tidur perlu diperhatikan dengan baik, karena istirahat dan tidur yang teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani untuk kepentingan perkembangan dan pertumbuhan janin. Bagaimana pola tidur dalam sehari dan apakah ada keluhan (Mochtar, 2008)
f. Pola aktifitas
Pola aktifitas perlu ditanyakan untuk mengetahui aktifitas rutin ibu setiap hari yang dapat mempengaruhi kehamilan. Selama kehamilan ibu boleh melakukan pekerjaan seperti biasa asalkan tidak terlalu melelahkan (Mochtar, 2008)
6) Riwayat psikososial
Riwayat psikososial ditanyakan untuk mengetahui status perkawinan, respon orang tua dan keluarga terhadap kehamilannya, dukungan keluarga, pengambil keputusan dalam keluarga, kebiasaan hidup sehat meliputi kebiasaan merokok, minum obat atau alcohol, beban kerja dan kegiatan sehari-hari, tempat melahirkan dan penolong yang diinginkan (Pusdiknakes, 2004:39).

b. Data obyektif
1. Pemeriksaan umum
Dikaji untuk mengetahui keadaan umum dan kesadaran. Pengukuran Vital Sign sangat diperlukan untuk memantau perkembangan kesehatan ibu hamil. Pemeriksaan vital sign meliputi suhu, nadi, tekanan darah dan pernapasan. Pengukuran berat badan, tinggi badan dan LILA juga perlu dilakukan (Pusdiknakes 2003:44)

2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala : warna rambut, ada lesi atau tidak, dan tekstur rambut apakah distribusi penuh diatas kulit kepala atau tidak. Hal ini digunakan untuk mengetahui tingkat pemenuhan gizi (Morton, 2011:452)
b. Muka : wajah ada cloasma, oedem, pucat atau tidak
c. Mata : keadaan konjungtiva dan skleranya yang dapat terjadi karena adanya gangguan sistematik (Morton, 2011:465)
d. Hidung : apakah sering flu, hidung tersumbat, ada pendarahan hidung, ada gatal atau tidak (bates, 2010).
e. Mulut : pemeriksaan pada mulut dilakukan pada bibir apakah sianosis atau tidak, apakah ada lesi atau stomatitis, warna gusi, lidah, dan pada gigi apakah terdapat caries (Morton, 2011:458)
f. Telinga : simetris atau tidak, ada nyeri tekan atau pembengkakan nodul, lesi, dan serumen atau tidak.
g. Leher : ada benjolan pada leher, pembengkakan kelenjar tiroid, nyeri atau kaku pada leher atau tidak.
h. Dada : perhatikan bentuk payudara, ukuran dan keistimewaannya. Apakah putting payudara menonjol atau masuk kedalam. Apakah ada kolostrum atau cairan yang keluar.

i. KGB Axila
Lakukan pemeriksaan palpasi untuk mengetahui apakah ada masa dan pembesaran kelenjar limfe (Pusdiknakes, 2003:51).
j. Abdomen : dikaji untuk mengetahui apakah abdomen sesuai dengan umur kehamilan, apakah ada bekas operasi, linea ligra dan striae gravidarum. Pada palpasi diketahui presentasi, letak, posisi, taksiran berat janin dan penurunan kepala janin pada umur kehamilan lebih dari 36 minggu. (Pusdiknakes, 2003:51)
k. Panggul : menilai keadaan bentuk panggul apakah terdapat kelainan atau keadaan yang menimbulkan penyulit dalam persalinan (Pusdiknakes, 2003:52).
l. Genetalia : bagaimana keadaan genetalia, vulva, labia mayora, minora, ada pengeluaran pervaginaan atau tidak, misalnya darah atau cairan. Ada pembesaran kelenjar bartholini atau tidak, adanya oedem, varises, dan kebersihannya (Pusdiknakes, 2003:45)
m. Ekstrimitas : pemeriksaan ekstremitas dilakukan untuk mengetahui apakah ada oedem pada jari tangan, kuku jari pucat atau tidak. Memeriksa apakah ada varises, dan memeriksa reflek patella untuk mengetahui apakah terjadi gerakan hypo atau hyper pada kaki.
3. Pemeriksaan penunjang
Dilakukan untuk mengetahui protein urin hemoglobin, glukosa urin (Hyre, 2011:53).

II. Interpretasi Data
Interpretasi data dilakukan identifikasi terhadap diagnose atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnose dan masalah yang spesifik. Rumusan diagnose dan masalah keduanya digunakan, akan tetapi tetap membutuhkan penanganan untuk mengembangkan teori asuhan yang menyeluruh, berdasarkan tanda dan gejala serta perubahan yang terjadi setelah dilakukan pengkajian dan pemeriksaan maka dapat ditentukan diagnose kebidanannya (Hyre, 2011:74-86).

III. Diagnosa Potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah yang lain juga. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil terus mengamati kondisi klien. Bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosis atau masalah potensial benar-benar terjadi (Sulistyawati, Ari, 2009:181).
IV. Antisipasi
Dalam pelaksanaannya terkadang bidan dihadapkan pada beberapa situasi yang memerlukan penanganan segera sehingga bidan harus segera melakukan tindakan segera untuk menyelamatkan pasien. Di sini bidan sangat dituntut kemampuannya untuk dapat selalu melakukan evaluasi keadaan pasien agar asuhan yang diberikan tepat dan aman (Sulistyawati, Ari, 2009:182)

V. Rencana Tindakan
Meliputi strategi desain atau penanganan untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi dalam diagnose kebidanan.

VI. Pelaksanaan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh dilaksanakan secara efisien dan aman. Pelaksanaan disini merupakan pelaksanaan oleh penulis bersama pasien dan keluarga, jadi dalam proses manajemen kebidanan dilakukan oleh bidan dengan rencana yang telah ditetapkan. Walaupun bidan tidak melakukan sendiri tetapi ia memikul tanggungjawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.

VII. Evaluasi
Langkah ini dilakukan evaluasi keaktifan dan asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi didalam diagnose dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya (Pusdiknakes, 2003:35).

C. Teori Berdasarkan Landasan Hukum
Peraturan menteri kesehatan RI NOMOR HK.02.02/MENKES/149/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan dalam bab III.
1. Pasal 8
Bidan dalam menjalankan praktik berwenang untuk memberikan pelayanan meliputi :
a. Pelayanan kebidanan
b. Pelayanan reproduksi perempuan
c. Pelayanan kesehatan masyarakat
2. Pasal 9
a. Pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf a ditujukan kepada ibu dan bayi
b. Pelayanan kebidanan kepada ibu sebagaimana dimaksud ayat (1) diberikan pada masa kehamilan, masa persalinan, masa nifas dan masa menyusui.
c. Pelayanan kebidanan pada bayi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan pada bayi baru lahir normal sampai usia 28 ( dua puluh delapan ) hari.
3. Pasal 10
a. Pelayanan kebidanan kepada ibu sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (2) meliputi :
1) Penyuluhan dan konseling
2) Pemeriksaan fisik
3) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
4) Pertolongan persalinan normal
5) Pelayanan ibu nifas normal
b. Pelayanan kebidanan kepada bayi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (3) meliputi :
1) Pemeriksaan bayi baru lahir
2) Perawatan tali pusat
3) Perawatan bayi
4) Resusitasi pada bayi baru lahir
5) Pemberian imunisasi bayi dalam rangka menjalankan tugas pemerintah
6) Pemberian penyuluhan

4. Pasal 11
Bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf a berwenang untuk :
a. Memberikan imunisasi dalam rangka menjalankan tugas pemerintah
b. Bimbingan senam hamil
c. Episiotomy
d. Penjahitan luka episiotomy
e. Kompres bimanual dalam rangka kegawatdaruratan dilanjutkan dengan perujukan
f. Pencegahan anemia
g. Inisiasi menyusui dini dan promosi air susu ibu ekslusif
h. Resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia
i. Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk
j. Pemberian minum dengan sonde/pipet
k. Pemberian obat bebas, uterotonika untuk postpartum dan manajemen aktif kala III
l. Pemberian surat keterangan kelahiran
m. Pemberian surat keterangan hamil untuk keperluan cuti melahirkan.

Author: t4ouf1k

humoris, penuh visi, suka akan keindahan, suka belajar dan suka bekerja sama

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.