Kumpulan Materi Kuliah Keperawatan

A fine WordPress.com site


Tinggalkan komentar

ASKEP DYSPEPSIA

A.      Konsep  Dasar Penyakit

1.Pengertian

Dyspepsia adalah kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan. (Arif Mansjoer, dkk, 1999). Dyspepsia dapat juga didefinisikan sebagai kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak baik episodic, atau persisten yang diduga berasal dari saluran makanan bagian atas (Kelompok Studi Helicobakter Pilori Indonesia, 1996). Dispepsia juga diartikan untuk menjelaskan sejumlah gejala yang umumnya dirasakan sebagai gangguan perut bagian atas dan sering disertai dengan kurangnya asupan makanan (Prof. Dr. Ahmad H. Asdie Sp. Pd, 1999).

2.Anatomi dan Fisiologi

    Lambung merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster, lambung terdiri dari bagian  atas fundus uteri berhubungan dengan  esofagus melalui orifisium pilorik, terletak di bawah diafragma di depan pankreas dan limpa, menempel di sebelah kiri fundus uteri.    

  1. Bagian lambung terdiri dari :

1)        Fundus Ventrikuli, bagian yang menonjol ke atas terletak di sebelah kiri osteum kardium dan biasanya penuh berisi gas.

2)        Korpus Ventrikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada bagian bawah kurvatura minor. 

3)        Antrum Pilorus, bagian lambung berbentuk tabung mempunyai otot yang tebal membentuk spinkter pilorus.

4)        Kurvatura Minor, terdapat di sebelah kanan lambung terbentang dari osteum kardiak sampai ke pilorus.

5)        Kurvatura Mayor, lebih panjang dari   kurvatura  minor terbentang dari sisi kiri osteum kardiakum melalui fundus ventrikuli                          menuju ke kanan sampai  ke pilorus inferior. Ligamentum gastro lienalis terbentang dari bagian atas kurvatura mayor sampai ke limpa.

6)        Osteum Kardiakum, merupakan tempat dimana esopagus bagian abdomen masuk ke lambung. Pada bagian ini terdapat orifisium pilorik.

  1. Susunan Lapisan  

Susunan lapisan dari dalam keluar, terdiri dari :

1)        Lapisan selaput lendir, apabila lambung ini dikosongkan, lapisan ini akan  berlipat-lipat yang disebut rugae.

2)        Lapisan otot  melingkar (muskulus aurikularis).

3)        Lapisan otot  miring (muskulus oblingus).

4)        Lapisan otot panjang (muskulus  longitudinal).

5)        Lapisan jaringan ikat/serosa (peritonium).

Hubungan antara pilorus terdapat  spinkter pilorus.   

  1. Fungsi Lambung

Ada dua fungsi lambung, yaitu :

1)        Fungsi Motorik.

a)        Fungsi reservoir.

b)        Menyimpan makanan sampai makanan tersebut sedikit demi sedikit  dicernakan dan bergerak pada saluran cerna.

c)        Fungsi mencampur.

d)       Memecahkan makanan menjadi partikel-partikel kecil dan mencampurnya dengan getah lambung melalui kontraksi otot yang mengelilingi lambung.

e)        Fungsi pengosongan lambung.

f)         Diatur oleh pembukaan sfingter pilorus yang dipengaruhi oleh          viskositas, volume, keasaman, aktivitas osmotik, keadaan fisik, serta oleh emosi,  obat-obatan, dan kerja.

2)        Fungsi pencernaan dan sekresi.

a)        Pencernaan protein oleh pepsin dan HCl dimulai disini, pencernaan karbohidrat dan lemak oleh amilase dan lipase dalam lambung kecil peranannya.

b)        Sintesis dan pelepasan gastrin dipengaruhi oleh protein yang dimakan, peregangan antrum, alkalinisasi antrum, dan rangsang vagus.  Hormon Gastrin diproduksi oleh sel G yang terletak pada daerah pilorus lambung.

c)        Sekresi faktor intrinsik memungkinkan absorpsi vitamin B12 dari usus halus bagian distal. Kekurangan faktor intrinsik akan menyebabkan anemia pernisiosa.

d)       Sekresi mukus membentuk selubung yang melindungi lambung serta  berfungsi sebagai pelumas,  sehingga makanan lebih mudah diangkut.

3. Etiologi

  1. Dispepsia organik.

Dispepsia ini apabila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya.

1)        Ulkus peptic kronik (ulkus ventrikuli, ilkus duodeni).

2)        Gastro-oesophageal refluk disease (GORD), dengan atau tanpa esofagitis.

3)        Obat : Aspirin.

4)        Kolelitiasis simtomatik.

5)        Pankreatitis kronik.

6)        Ganggan metabolik (uremia, hiperkalsemia, gastroparesis DM).

7)        Keganasan (gaster, pankreas, kolon).

8)        Insufisiensi vaskula mesentrikus.

9)        Nyeri dinding perut.

  1. Disepsia nonorganik  atau dispepsia fungsional, atau dispepsia nonulkus (DNU).

Dispepsia ini  bila tidak  jelas penyebabnya.

1)        Disfungsi sensorik-motorik gastroduodenum.

2)        Gastroparesis idiopatik/hipomotilitas antrum.

3)        Disritmia gaster.

4)        Hipersensitivitas gaster/duodenum.

5)        Factor psikososial.

6)        Gastritis H. pylori.

7)        Idiopatik.

4. Patofisiologi

Menurut dr. Wewen Siswanto (1999), patofisiologi Dyspepsia Non Ulkus masih sedikit diketahui, beberapa faktor berikut mungkin berperan penting (multifaktorial) :

  1. Abnormalitas Motorik Gaster

Dengan Studi Scintigrapic Nuklear dibuktikan lebih dari 50 %klien Dyspepsia Non Ulkus mempunyai keterlambatan pengosongan makanan dalam gaster. Demikian pula pada studi Monometrik  didapatkan gangguan mobilitas antrum post prandial, tetapi hubungan antara kelainan tersebut dengan gejala dyspepsia tidak jelas.

Penelitian akhir menunjukkan bahwa fundus gaster yang “kaku” bertanggung jawab terhadap dyspepsia. Pada keadaan normal seharusnya fundus relaksasi, baik saat mencerna makanan maupun bila terjadi distensi duodenum. Pengosongan makanan bertahap dari korpus gaster menujuke bagian fundus dan duodenum diatur oleh refleks fagal. Pada beberapa pasien Dyspepsia Non Ulkus, refleks ini tidak berfungsi dengan baik sehingga pengisian bagian antrum terlalu cepat.

  1. Perubahan Sensitivitas Gaster

Lebih dari 50 % pasien Dyspepsia Non Ulkus menunjukkan sensitivitas terhadap distensi gaster ayau intestinunm, oleh karena itu mungkin akibat : makanan yang sudikit mengiritasi seperti makanan pedas, distensi udara, gangguan kontraksi gaster intestinum atau distensi dini bagian antrum post prandial dapat menginduksi nyeri bagian ini.

  1. Psikosomatis (Faktor Psiko Sosial)

Emosi, intelegensi dan kepribadian sangat berpengaruh terhadap cara manusia menyelesaikan konfliknya. Bila konflik tidak teratasi akan menimbulkan stres psikis dan selanjutnya bisa menimbulkan gangguan somatic baik gangguan fungsional maupun organik.

5. Tanda dan Gejala

    Didasarkan atas keluhan/gejala yang dominan, membagi   dispepsia  menjadi 3 tipe :

  1. Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (ulcus-like dyspepsia), dengan gejala :

1)        Nyeri epigastrium terlokalisasi.

2)        Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antasid.

3)        Nyeri saat lapar.

4)        Nyeri episodik.

  1. Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility-like dyspepsia), dengan gejala :

1)        Mudah kenyang.

2)        Perut cepat terasa penuh saat makan.

3)        Mual.

4)        Muntah.

5)        Upper abdominal bloating.

6)        Rasa tak nyaman bertambah saat makan.

  1. Dispepsia non spesifik (tidak ada gejala seperti kedua tipe di atas).

Pembagian akut dan kronik berdasarkan atas jangka waktu tiga bulan.

  1. Pemeriksaan Diagnostik
    1. Radiologi  yaitu, OMD dengan kontras ganda.
    2. Serologi Helicobacer pylori.
    3. Urea breath test (belum tersedia di Indonesia).
    4. Endoskopi  :

1)        CLO (rapid urea test).

2)        Patologi anatomi.

3)        Kultur miroorganisme (MO) jaringan.

4)        PCR (polmerase chain reaction), hanya dalam rangka penelitian.

  1. Pengobatan.

Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu :

  1. Antasid   20-150 ml/hari.

Antasid akan menetralisir  sekresi asam lambung. Campuran yang biasanya teradapat dalam antasid antara lain Na, Bicarbonat dan Mg Trisilat. Pemakaian obat ini sebaiknya jangan terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis (untuk mengurangi rasa nyaman).

  1. Antikolinergik.

Obat yang agak selektif  yaitu pirenzepin bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang dapat menekan sekresi asam lambung sekitar 28-43 %. Pirenzepin juga memiliki efek sitoprotektif.

  1. Antagonis resepor H2.

Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organik atau esensial seperti tukak peptik. Obat yang termasuk golongan ini antara lain simetidin, roksatidin, ranitidin, dan  famotidin.

  1. Penghambat pompa asam.

Golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk golongan ini adalah ameperazol,  lansoprazol, dan pantoprazol.

  1. Sitoprotektif.

Prostaglandin sintetik  seperti miroprostol  (PGE1) dan enprostil (PGE2). Selain bersifat sitoprotektif, juga menekan sekresi asam lambung oleh sel parietal.

 

 

  1. Golongan  prokinetik.

Obat yang termasuk golongan ini, yaitu sisaprid, dompeidon, dan metoklopramid. Golongan ini cukup efektif untuk mengobati dispepsia fungsional dan refluks esofagitis dengan mencegah  refluks dan memperbaiki bersihan asam lambung (acid clearance).

 


Tinggalkan komentar

ASKEP KEJANG DEMAM ( FEBRIS KONVULSI)

KEJANG DEMAM

 

A.    Konsep Dasar

1.      Pengertian

Istilah kejang demam digunakan untuk bangkitan kejang yg timbul akibat kenaikan suhu tubuh. “Kejang demam ialah bangkitan kejang yg terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal 38°C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (Hasan, 1995).

Banyak pernyataan yang dikemukakan mengenai kejang demam, salah satu diantaranya adalah : “Kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi pada umur 3 bulan sampai 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Kejang demam harus dapat dibedakan dengan epilepsi, yaitu ditandai dengan kejang berulang tanpa demam (Mansjoer, 2000).

2.      Anatomi Fisiologi Sistem Persarafan

Seperti yang dikemukakan Syaifuddin (1997), bahwa system saraf terdiri dari system saraf pusat (sentral nervous system) yang terdiri dari cerebellum, medulla oblongata dan pons (batang otak) serta medulla spinalis (sumsum tulang belakang), system saraf tepi (peripheral nervous system) yang terdiri dari nervus cranialis (saraf-saraf kepala) dan semua cabang dari medulla spinalis, system saraf gaib (autonomic nervous system) yang terdiri dari sympatis (sistem saraf simpatis) dan parasymphatis (sistem saraf parasimpatis).

Otak berada di dalam rongga tengkorak (cavum cranium) dan dibungkus oleh selaput otak yang disebut meningen yang berfungsi untuk melindungi struktur saraf terutama terhadap resiko benturan atau guncangan. Meningen terdiri dari 3 lapisan yaitu duramater, arachnoid dan piamater.

Sistem saraf pusat (Central Nervous System) terdiri dari :

  1. Cerebrum (otak besar)

Merupakan bagian terbesar yang mengisi daerah anterior dan superior rongga tengkorak di mana cerebrum ini mengisi cavum cranialis anterior dan cavum cranialis media.

Cerebrum terdiri dari dua lapisan yaitu : Corteks cerebri dan medulla cerebri. Fungsi dari cerebrum ialah pusat motorik, pusat bicara, pusat sensorik, pusat pendengaran / auditorik, pusat penglihatan / visual, pusat pengecap dan pembau serta pusat pemikiran.

Sebagian kecil substansia gressia masuk ke dalam daerah substansia alba sehingga tidak berada di corteks cerebri lagi tepi sudah berada di dalam daerah medulla cerebri. Pada setiap hemisfer cerebri inilah yang disebut sebagai ganglia basalis.

Yang termasuk pada ganglia basalis ini adalah :

1)      Thalamus

Menerima semua impuls sensorik dari seluruh tubuh, kecuali impuls pembau yang langsung sampai ke kortex cerebri. Fungsi thalamus terutama penting untuk integrasi semua impuls sensorik. Thalamus juga merupakan pusat panas dan rasa nyeri.

2)      Hypothalamus

Terletak di inferior thalamus, di dasar ventrikel III hypothalamus terdiri dari beberapa nukleus yang masing-masing mempunyai kegiatan fisiologi yang berbeda. Hypothalamus merupakan daerah penting untuk mengatur fungsi alat demam seperti mengatur metabolisme, alat genital, tidur dan bangun, suhu tubuh, rasa lapar dan haus, saraf otonom dan sebagainya. Bila terjadi gangguan pada tubuh, maka akan terjadi perubahan-perubahan. Seperti pada kasus kejang demam, hypothalamus berperan penting dalam proses tersebut karena fungsinya yang mengatur keseimbangan suhu tubuh terganggu akibat adanya proses-proses patologik ekstrakranium.

3)      Formation Reticularis

Terletak di inferior dari hypothalamus sampai daerah batang otak (superior dan pons varoli) ia berperan untuk mempengaruhi aktifitas cortex cerebri di mana pada daerah formatio reticularis ini terjadi stimulasi / rangsangan dan penekanan impuls yang akan dikirim ke cortex cerebri.

  1. Serebellum

Merupakan bagian terbesar dari otak belakang yang menempati fossa cranial posterior. Terletak di superior dan inferior dari cerebrum yang berfungsi sebagai pusat koordinasi kontraksi otot rangka.

System saraf tepi (nervus cranialis) adalah saraf yang langsung keluar dari otak atau batang otak dan mensarafi organ tertentu. Nervus cranialis ada 12 pasang :

1)      N. I                  : Nervus Olfaktorius

2)      N. II                : Nervus Optikus

3)      N. III               : Nervus Okulamotorius

4)      N. IV               : Nervus Troklearis

5)      N. V                : Nervus Trigeminus

6)      N. VI               : Nervus Abducen

7)      N. VII             : Nervus Fasialis

8)      N. VIII            : Nervus Akustikus

9)      N. IX               : Nervus Glossofaringeus

10)  N. X                : Nervus Vagus

11)  N. XI               : Nervus Accesorius

12)  N. XII             : Nervus Hipoglosus.

System saraf otonom ini tergantung dari system sistema saraf pusat dan system saraf otonom dihubungkan dengan urat-urat saraf aferent dan efferent. Menurut fungsinya system saraf otonom ada 2 di mana keduanya mempunyai serat pre dan post ganglionik yaitu system simpatis dan parasimpatis.

Yang termasuk dalam system saraf simpatis adalah :

1)      Pusat saraf di medulla servikalis, torakalis, lumbal dan seterusnya

2)      Ganglion simpatis dan serabut-serabutnya yang disebut trunkus symphatis

3)      Pleksus pre vertebral : Post ganglionik yg dicabangkan dari ganglion kolateral.

System saraf parasimpatis ada 2 bagian yaitu :

Serabut saraf yang dicabagkan dari medulla spinalis:

  1. Serabut saraf yang dicabangkan dari otak atau batang otak
  2. Serabut saraf yang dicabangkan dari medulla spinalis

3. Etiologi

Penyebab Febrile Convulsion hingga kini belum diketahui dengan Pasti, demam sering disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu tinbul pada suhu yang tinggi. Kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang (Mansjoer, 2000).

Kejang dapat terjadi pada setiap orang yang mengalami hipoksemia (penurunan oksigen dalam darah) berat, hipoglikemia, asodemia, alkalemia, dehidrasi, intoksikasi air, atau demam tinggi. Kejang yang disebabkan oleh gangguan metabolik bersifat reversibel apabila stimulus pencetusnya dihilangkan (Corwin, 2001).

4.      Patofisiologi

Sel neuron dikelilingi oleh suatu membran. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium dan ion lain, kecuali ion clorida. Akibatnya konsentrasi natrium menurun sedangkan di luar sel neuron terjadi keadaan sebaliknya.

Dengan perbedaan jenis konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dan ini dapat dirubah dengan adanya :

  1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler
  2. Rangsangan yang datangnya mendadak, misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya
  3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.

Pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya sehingga terjadi kejang.

Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda, tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang tersebut. Pada anak dengan ambang kejang rendah, kejang dapat terjadi pada suhu 38° C, sedang pada ambang kejang tinggi baru terjadi pada suhu 40° C atau lebih

5.      Tanda dan Gejala

Secara teoritis pada klien dengan Kejang Demam didapatkan data-data antara lain klien kurang selera makan (anoreksia), klien tampak gelisah, badan klien panas dan berkeringat, mukosa bibir kering (Ngastiyah, 1997).

6.      Komplikasi

Pada penderita kejang demam yang mengalami kejang lama biasanya terjadi hemiparesis. Kelumpuhannya sesuai dengan kejang fokal yang terjadi. Mula – mula kelumpuhan bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu timbul spastisitas.

Kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak sehingga terjadi epilepsy.

Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada klien dengan kejang demam :

  1. Pneumonia aspirasi
  2. Asfiksia
  3. Retardasi menta                                                                                                                                                                                                                                                           7. Penatalaksanaan / Pengobatan

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu :

Memberantas kejang secepat mungkin

Bila penderita datang dalam keadaan status convulsion, obat pilihan utama adalah diazepam secara intravena. Apabila diazepam tidak tersedia dapat diberikan fenobarbital secara intramuskulus.

  1. Pengobatan Penunjang

Semua pakaian yang ketat dibuka. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung, usahakan jalan nafas bebas agar oksigen terjamin, penghisapan lendir secara teratur dan pengobatan ditambah dengan pemberian oksigen. Tanda – tanda vital diobservasi secara ketat, cairan intravena diberikan dengan monitoring.

2. Pengobatan di rumah

Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumah. Pengobatan ini dibagi atas 2 golongan yaitu :

1)      Profilaksis intermitten

Untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari diberikan obat campuran anti konvulsan dan anti piretik yang harus diberikan pada anak bila menderita demam lagi

2)      Profilaksis jangka panjang

Gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis terapeutik yang stabil dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari.

3. Mencari dan mengobati penyebab

Penyebab dari kejang demam baik sederhana maupun epilepsy yang diprovokasi oleh demam, biasanya infeksi traktus respiratorius bagian atas dan otitis media akut.

B.     Asuhan Keperawatan

1.      Pengkajian

Pengkajian adalah pendekatan untuk mengumpulkan data serta menganalisa data sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan klien (Gaffar, 1997). Dalam upaya pengumpulan data sebagai langkah awal dari proses keperawatan penulis melakukan pengkajian, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan yang dilakukan dalam pengkajian adalah pengumpulan data dan merumuskan prioritas masalah. Sedangkan tujuan dari pengkajian keperawatan adalah mengumpulkan data–data, mengelompokkan dan menganalisa data sehingga ditemukan diagnosa keperawatan (Gaffar, 1997).

Tahapan pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Oleh karena itu pengkajian yang akurat dan lengkap sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa keperawatan sesuai dengan respon individu sebagaimana yang ditentukan dalam standar praktek keperawatan dari American Nursing Association.

Pengkajian keperawatan data dasar yang komprehensif adalah kumpulan data yang berisikan mengenai status kesehatan klien untuk mengelola kesehatan terhadap dirinya sendiri dan hasil konsultasi dari medis (terapis) atau profesi  kesehatan lainnya (Taylor, Lilis Le Mone, 1997).

Berdasarkan sumber data, data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari klien, yaitu data tersebut diperoleh dari klien yang sadar maupun klien tidak sadar sehingga tidak dapat berkomunikasi misalnya data tentang kebersihan diri atau data tentang kesadaran. Data sekunder adalah data yang diperoleh selain dari klien, seperti dari perawat, dokter, catatan perawat, serta dari pemeriksaan seperti pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan diagnostik lainnya, dari keluarga atau dari kerabat dekat.

Secara umum ada beberapa cara pengumpulan data dengan observasi, konsultasi, validasi data, anamnesa, pemeriksaan fisik, observasi adalah pengumpulan data melalui hasil pengamatan (melihat, meraba atau mendengarkan) tentang kondisi klien dalam kerangka asuhan keperawatan.

Konsultasi adalah seorang spesialis diminta untuk mengidentifikasikan cara–cara untuk pengobatan dan penanganan penyakit klien.

Anamnesa atau wawancara adalah cara pengumpulan data melalui inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

Inspeksi adalah pengamatan secara seksama terhadap status kesehatan klien, seperti inspeksi kesimetrisan pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu pernafasan, inspeksi adanya lesi pada kulit dan sebagainya.

Perkusi adalah pemeriksaan fisik dengan cara mengetukkan jari tengah kejari tengah yang lainnya untuk normal atau tidaknya suatu organ tubuh.

Palpasi adalah jenis pemeriksaan fisik dengan cara meraba klien seperti lokasi pada rongga abdomen untuk mengetahui lokasi nyeri atau untuk mengetahui adanya massa.

Auskultasi adalah cara pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop, misalnya auskultasi dinding abdomen untuk mengetahui bising usus, mendengarkan suara paru – paru, bunyi jantung.

Adapun pengkajian untuk mengumpulkan data–data yang akurat terhadap Kejang Demam yaitu dimulai dengan anamnesa kepada klien dan

keluarga kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik.

Hal – hal yang perlu dikaji antara lain :

  1. Identitas pasien dan keluarga

1)      Nama Pasien (initial), umur, jenis kelamin,agama, suku bangsa dan alamat

2)      Nama Ayah (initial), umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku dan bangsa

3)      Nama Ibu (initial), umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku dan bangsa.

  1. Kesehatan fisik

1)      Pola nutrisi

Tidak ada nafsu makan (anoreksia), mual dan bahkan dapat disertai muntah. Perlu dikaji pola nutrisi sebelum sakit, porsi makan sehari – hari, jam makan, pemberian makan oleh siapa, frekuensi makan, nafsu makan, serta alergi terhadap makanan.

2)      Pola eliminasi

3)      Pola tidur

Yang perlu dikaji meliputi jam tidur, waktu tidur dan lamanya tidur serta kebiasaan sebelum tidur

4)      Pola hygiene tubuh

Mengkaji mengenai kebiasaan mandi, cuci rambut, potong kuku dan rambut

5)      Pola aktifitas

Anak tampak lemah, gelisah atau cengeng.

  1. Riwayat kesehatan yang lalu

1)      Riwayat prenatal

Dikaji mengenai kehamilan ke berapa, tempat pemeriksaan kehamilan, keluhan ibu saat hamil, kelainan kehamilan dan obat – obatan yang diminum saat hamil.

2)      Riwayat kelahiran

Kelahiran spontan atau dengan bantuan – bantuan, aterm atau premature. Perlu juga ditanyakan berat badan lahir, panjang badan, ditolong oleh siapa dan melahirkan di mana.

3)      Riwayat yang berhubungan dengan hospitalisasi

Pernahkah dirawat di rumah sakit, berapa kali, sakit apa, pernahkah menderita penyakit yang gawat.

Riwayat kesehatan dalam keluarga perlu dikaji kemungkinan ada keluarga yang pernah menderita kejang.

4)      Tumbuh kembang

Mengkaji mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan tingkat usia, baik perkembangan emosi dan sosial.

5)      Imunisasi

Yang perlu dikaji adalah jenis imunisasi dan umur pemberiannya. Apakah imunisasi lengkap, jika belum apa alasannya.

  1. Riwayat penyakit sekarang

1)      Awal serangan : Sejak timbul demam, apakah kejang timbul setelah 24 jam pertama setelah demam

2)      Keluhan utama : Timbul kejang (tonik, klonik, tonik klonik), suhu badan meningkat

3)      Pengobatan : Pada saat kejang segera diberi obat anti konvulsan dan apabila pasien berada di rumah, tiindakan apa yang dilakukan untuk mengatasi kejang.

4)      Riwayat sosial ekonomi keluarga

Pendapatan keluarga setiap bulan, hubungan sosial antara anggota keluarga dan masyarakat sekitarnya.

5)      Riwayat psikologis

Reaksi pasien terhadap penyakit, kecemasan pasien dan orang tua sehubungan dengan penyakit dan hospitalisasi.

  1. Pemeriksaan fisik

1)      Pengukuran pertumbuhan : Berat badan, tinggi badan, lingkar kepala

2)      Pengukuran fisiologis : Suhu biasanya di atas 38° C, nadi cepat, pernafasan (mungkin dyspnea nafas pendek, nafas cepat, sianosis)

3)      Keadaan umum : Pasien tampak lemah, malaise

4)      Kulit : Turgor kulit dan kebersihan kulit

5)      Kepala : Bagaimana kebersihan kulit kepala dan warna rambut serta kebersihannya

6)      Mata : Konjungtiva, sklera pucat / tidak, pupil dan palpebra

7)      Telinga : Kotor / tidak, mungkin ditemukan adanya Otitis Media Akut / Kronis

8)      Hidung umumnya tidak ada kelainan

9)      Mulut dan tenggorokan : Bisa dijumpai adanya tonsillitis

10)  Dada : Simetris / tidak, pergerakan dada

11)  Paru – paru : Bronchitis kemungkinan ditemukan

12)  Jantung : Umumnya normal

13)  Abdomen : Mual – mual dan muntah

14)  Genetalia dan anus : Ada kelainan / tidak

15)  Ekstremitas : Ada kelainan / tidak.

Setelah selesai mengumpulkan data maka selanjutnya data tersebut dikelompokkan. Pengelompokan data dapat dibagi atas data dasar dan data khusus (Carpenito, 1997). Data dasar terdiri dari data fisiologis, data psikologis, data sosial dan spiritual. Sedangkan data khusus adalah data yang bersifat khusus, misalnya pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rontgen dan sebagainya.

2.      Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status atau masalah kesehatan aktual atau rester / resti (Gaffar, 1997). Pada tahap diagnosa keperawatan penulis akan menganalisa data yang diperoleh dari hasil pengkajian dan mengidentifikasi masalah keperawatan, baik yang dapat dicegah, dapat dikurangi maupun yang dapat ditanggulangi dengan tindakan keperawatan.

Diagnosa keperawatan dibagi sesuai dengan masalah kesehatan klien yaitu :

  1. Aktual, yaitu diagnosa keperawatan yang menjelaskan masalah yang nyata saat ini dengan data klinis yang ditemukan.
  2. Rester, yaitu diagnosa keperawatan yang menjelaskan bahwa masalah kesehatan yang nyata yang akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi keperawatan, saat ini masalah belum ada tetapi etiologi sudah ada.
  3. Possible, yaitu diagnosa keperawatan yang timbul akibat adanya tambahan masalah

Komponen – komponen berikut ini menandai tiga bagian pernyataan perubahan  keperawatan

  1. Diagnosa keperawatan, merupakan pernyataan yang menggambarkan perubahan status kesehatan klien. Perubahan–perubahan menyebabkan masalah dan perubahan yang tidak menguntungkan pada kemampuan klien untuk berfungsi. Diagnosa keperawatan adalah frase atau pernyataan yang ringkas, diagnosa keperawatan memberikan dasar untuk membuat kriteria hasil asuhan keperawatan dan menentukan intervensi – intervensi yang diperlukan untuk mencapai kriteria hasil.
  2. Etiologi, pernyataan etiologi mencerminkan penyebab masalah klien yang menimbulkan perubahan–perubahan pada status kesehatan klien. Penyebab tersebut dapat berhubungan dengan tingkah laku klien, patofisiologi, psikososial, perubahan–perubahan situasional pada gaya hidup, usia perkembangan, faktor budaya dan lingkungan. Diagnosa keperawatan dapat diterapkan untuk semua area keperawatan, seperti medikal bedah, kesehatan ibu dan anak, pediatrik, kesehatan komunitas.

Batasan karakteristik, merupakan kelompok petunjuk klinis yang menggambarkan tingkah laku, tanda dan gejala yang menggambarkan diagnosa keperawatan. Batasan karakteristik diperoleh selama tahap pengkajian, memberikan bukti bahwa ada masalah kesehatan gejala (data subjektif) adalah perubahan yang dirasakan oleh klien dan diekspresikan secara verbal kepada perawat. Tanda (data objektif) adalah perubahan yang diamati pada status kesehatan klien. Identifikasi minimal tiga tanda dan gejala sebagai bukti yang cukup untuk mendukung pemilihan diagnosa keperawatan .

Adapun masalah keperawatan pada klien dengan kasus Febrile Convulsion menurut Ngastiyah (19997) adalah :

  1. Resiko tinggi terhadap kerusakan sel otak berhubungan dengan kejang
  2. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme rata-rata, proses infeksi
  3. Resiko terjadi bahaya / komplikasi berhubungan dengan aktifitas kejang
  4. Gangguan rasa aman dan nyaman berhubungan dengan tindakan invasif, prosedur tindakan
  5. Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi.

Menurut Doenges (2000), diagnosa keperawatan pada Febrile Convulsion adalah :

  1. Resiko terhadap henti nafas berhubungan dengan perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot besar dan kecil
  2. Ketidakefektifan pola pernafasan / bersihan jalan nafas berhubungan dengan gangguan neuromuskuler, hypersekresi trakeobronkial
  3. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme basal rata-rata, proses infeksi
  4. Kurang pengetahuan keluarga mengenai kondisi, dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi.

Sedangkan menurut Carpenito (1990), diagnosa keperawatan yang terdapat pada kasus Febrile Convulsion adalah :

  1. Resiko tinggi tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan relaksasi lidah, sekunder terhadap gangguan inversi otot
  2. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme rata-rata, proses infeksi
  3.     Perencanaan

Perencanaan merupakan tahap yang paling penting yang dibuat setelah merumuskan diagnosa keperawatan. Tujuan perencanaan adalah untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien, sehingga tercapai kondisi kesehatan klien yang optimal (Gaffar, 1997).

Pada tahap perencanaan setelah memprioritaskan masalah keperawatn, penulis menetapkan tujuan dan kriteria tindakan yang dapat mencegah, mengurangi dan menanggulangi masalah kesehatan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan klien saat ini serta menuliskan tujuan yang ditetapkan harus nyata, dapat diukur dan mempunyai batasan waktu pencapaian.

Adapun komponen tahap perencanaan adalah :

Membuat prioritas urutan diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan diurutkan dengan prioritas tinggi, sedang, ringan masalah dengan prioritas tinggi mencerminkan situasi yang mengancam hidup (misalnya bersihan jalan nafas). Masalah dengan prioritas rendah tidak berhubungan secara langsung dengan keadaan sakit atau prognosis yang spesifik (misalnya masalah keuangan). Masalah dengan prioritas tingi membutuhkan perhatian yang cepat dibandingkan dengan prioritas rendah.

Hirarki kebutuhan Maslow (1968) membantu perawat untuk memprioritaskan urutan diagnosa keperawatan, kerangka hirarki ini termasuk kebutuhan fisiologis dan psikologis. Lima tingkatan hirarki ini adalah fisikologis, keselamatan dan keamanan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri.

Adapun rencana tindakan pada kasus Febrile Convulsion menurut Doenges (2002), yaitu :

  1. Diagnosa keperawatan I

Resiko tinggi terhadap henti nafas berhubungan dengan perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot besar dan kecil

Tujuan dan kriteria hasil :

Henti nafas dan trauma tidak terjadi dengan kriteria :

q  Menunjukkan efektifitas pernafasan selama kejang dan sesudahnya

q  Tidak terdapat tanda injuri, perlukaan di seluruh organ tubuh

Rencana Tindakan :

1.1  Gali bersama-sama keluarga berbagai stimulasi yang dapat menjadi pencetus kejang

Rasional : Mengetahui dan dapat menanggulangi sedini mungkin komplikasi yang dapat terjadi

1.2  Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur yang terpasang dengan posisi tempat tidur rendah

Rasional : mengurangi trauma saat kejang selama berada di tempat tidur

1.3  Gunakan termometer dengan bahan metal atau dapatkan suhu melalui lubang telinga jika perlu

Rasional : mengurangi resiko klien  menggigit dan cedera mulut

1.4  Tinggallah bersama klien dan keluarga dalam waktu beberapa lama / setelah kejang

Rasional : Meningkatkan rasa aman keluarga, mengobservasi gejala lanjut

1.5  Masukkan jalan nafas buatan yang terbuat dari plastik. Miringkan kepala ke salah satu sisi dan lakukan suction pada jalan nafas sesuia indikasi

Rasional : Memfasilitasi ekspansi dada maksimal, drainage sekret, dan memfasilitasi saat melakukan suction

1.6  Atur kepala, tempatkan di atas daerah yang empuk (lunak) atau bantu meletakkan pada lantai jika keluar dari tempat tidur

Rasional : Menurunkan resiko cedera

  1. Diagnosa keperawatan II

Ketidakefektifan pola pernafasan / bersihan jalan nafas berhubungan dengan gangguan neuromuskuler, hypersekresi trakeobronkial

Tujuan dan kriteria hasil :

Pola nafas efektif yang ditunjukkan dengan frekuensi nafas dalam batas normal, jalan nafas bersih

Rencana Tindakan :

2.1  Kosongkan mulut klien dari benda / zat makanan

Rasional : menurunkan resiko aspirasi

2.2  Letakkan klien pada posisi miring, permukaan datar, miringkan kepala, selama serangan kejang

Rasional : Meningkatkan aliran (drainage), sekret, mencegah lidah jatuh, dan menyumbat jalan nafas

2.3 Tanggalkan pakaian pada daerah leher, dada, dan abdomen

Rasional : Memfasilitasi usaha bernafas dan ekspansi dada

2.4 Masukkan spatel lidah/jalan nafas buatan atau golongan benda lunak sesuai dengan indikasi

Rasional : Mencegah tergigitnya lidah dan memfasilitasi saat melakukan suction

2.5  Melakukan pengisapan (suction) sesuai indikasi

Rasional : Menurunkan resiko aspirasi dan asfiksia

  1. Diagnosa keperawatan III

Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme basal rata-rata, proses infeksi

Tujuan dan kriteria hasil :

Suhu tubuh dalam batas normal, yang ditunjukkan dengan mendemontrasikan suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan, tidak mengalami komplikasi yang berhubungan

Rencana Tindakan :

3.1  Pantau suhu tubuh

Rasional : Suhu 38,9-41,1 menunjukkan adanya proses infeksius akut. Pola demam dapat membantu dalam diagnosis

3.2  Pantau suhu lingkungan, batasi / tambahkan penggunaan seprai di tempat tidur sesuai indikasi

Rasional : Suhu ruangan / jumlah selimut harus dirubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal

3.3  Berikan kompres hangat

Rasional : Membantu menurunkan demam dengan efek vasodilatasi air hangat melalui proses evaporase

3.4  Kolaborasi : Berikan antipiretik

Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentranya pada hipotalamus meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme dan meningkatkan autodekstruksi sel-sel yang terinfeksi.

4        Diagnosa keperawatan IV

Kurang pengetahuan (kurang belajar) mengenai kondisi, dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi, kesalahan persepsi

Tujuan dan kriteria hasil :

Mengungkapkan pemahaman tentang gangguan berbagai rangsang yang dapat menyebabkan aktifitas kejang, dengan kriteria :

Keluarga dapat mengemukakan kondisi dan pengobatan secara sederhana.

Rencana Tindakan :

4.1  Jelaskan kembali mengenai patofisiologi / prognosis penyakit

Rasional : Memberikan kesempatan mengklarifikasi kesalahan persepsi dan keadaan penyakit yang ada sesuai dengan yang ditangani

4.2  Tinjau kembali obat-obat yang didapat

Rasional : Tidak ada pemahaman terhadap obat-obatan yang dapat merupakan penyebab kecemasan keluarga

4.      Pelaksanaan

Pelaksanaan adalah intervensi yang dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, penugasan ketrampilan interpersonal, intelektual dan teknikal (Gaffar, 1997, 49).

Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien vulnus scissum untuk memenuhi antara lain : mencegah infeksi, meningkatkan penyembuhan luka, meningkatkan kondisi kesehatan dan koping individu dan keluarga serta mencegah komplikasi cedera selanjutnya.

Tahap pelaksanaan merupakan bentuk tindakan untuk direncanakan sebelumnya dan disesuaikan dengan situasi secara cermat dan efisien. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan penulis menyesuaikan dengan kondisi yang sesuai dengan kebutuhan klien saat itu, tidak semata – mata berdasarkan prioritas masalah yang direncanakan sebelumnya serta disesuaikan dengan waktu pelaksanaan tindakan. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan penulis juga melaksanakan tindakan observasi dan pengumpulan data untuk melihat perkembangan klien selanjutnya.

Komponen tahapan dalam menyusun implementasi :

  1. Tindakan keperawatan mandiri dilakukan tanpa perintah dokter, tindakan keperawatan mandiri ini ditetapkan dengan standar praktik American  Nursing Association (1973), undang–undang praktik perawat negara bagian dan kebijakan institusi perawat kesehatan.
  2. Tindakan keperawatan kolaboratif, diimplementasikan bila perawat bekerja dengan anggota tim perawatan kesehatan yang lain dalam membuat keputusan bersama yang bertujuan untuk mengatasi   masalah – masalah klien.
  3. Dokumentasi tindakan keperawatan dan respons klien terhadap tindakan keperawatan, dokumentasi merupakan pernyataan dari kejadian atau aktifitas yang otentik dengan mempertahankan      catatan – catatan yang tertulis. Dokumentasi merupakan wahana untuk komunikasi dari salah satu profesional ke profesional lainnya tentang status klien. Dokumentasi klien memberikan bukti tindakan keperawatan mandiri dan kolaboratif yang diimplementasikan oleh perawat                                                                                                                                                                         5.      Evaluasi

Merupakan fase akhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap asuhan keperawatan yang diberikan (Gaffar, 1997). Evaluasi asuhan keperawatan adalah tahap akhir proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai hasil akhir dari keseluruhan tindakan keperawatan yang dilakukan.

Hasil akhir yang diinginkan dari perawatan pasien Kejang Demam   meliputi pola pernafasan kembali efektif, suhu tubuh kembali normal, anak menunjukkan rasa nymannya secara verbal maupun non verbal, kebutuhan cairan terpenuhi seimbang, tidak terjadi injury selama dan sesudah kejang dan pengatahuan orang tua bertambah.

Evaluasi ini bersifat formatif, yaitu evaluasi yang dilakukan secara terus menerus untuk menilai hasil tindakan yang dilakukan disebut juga evaluasi tujuan jangka pendek. Dapat pula bersifat sumatif yaitu evaluasi yang dilakukan sekaligus pada akhir dari semua tindakan yang pencapaian tujuan jangka panjang.

Komponen tahapan evaluasi :

  1. Pencapaian kriteria hasil

Pencapaian dengan target tunggal merupakan meteran untuk pengukuran. Bila kriteria hasil telah dicapai, kata “ Sudah Teratasi “ dan datanya ditulis di rencana asuhan keperawatan. Jika kriteria hasil belum tercapai, perawat mengkaji kembali klien dan merevisi rencana asuhan keperawatan.

  1. Keefektifan tahap – tahap proses keperawatan

Faktor – faktor yang mempengaruhi pencapaian kriteria hasil dapat terjadi di seluruh proses keperawatan.

1)      Kesenjangan informasi yang terjadi dalam pengkajian tahap satu.

2)      Diagnosa keperawatan yang salah diidentifikasi pada tahap dua

3)      Instruksi perawatan tidak selaras dengan kriteria hasil pada tahap tiga

4)      Kegagalan mengimplementasikan rencana asuhan keperawatan tahap empat.

5)      Kegagalan mengevaluasi kemajuan klien pada tahap ke lima.


Tinggalkan komentar

Askep Diabetes Melitus

                                                                        DIABETES MELITUS

A.    Konsep dasar

      1.   Pengertian

Diabetes Melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, di sertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron ( Mansjoer Arif dkk, 1999 ).

Diabetes Melitus adalah masalah yang mengancam hidup (kasus darurat) yang disebabkan oleh defisiensi insulin (Doenges M. E, 2000).Menurut WHO, Diabetes Melitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol.

Sedangkan menurut Prince, A. S, 1999 : Diabets Melitus adalah gangguan metabolisme yang secara klinis dan genetik termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat.

Dari beberapa pengertian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Diabetes Melitus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan atau herediter, yang menyebabkan gangguan metabolik berupa defisiensi insulin akibat gangguan hormonal sehingga menimbulkan gangguan pada organ-organ tubuh yang lain, seperti pada: mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah.

2.  Klasifikasi Diabetes Melitus

Klasifikasi Diabetes Melitus terdiri atas :

a.       Insulin  Dependent Diabetes Melitus (IDDM) termasuk dalam tipe satu di mana insulin tidak lagi diproduksi pankreas.

b.      Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) termasuk dalam tipe dua dimana pankreas    masih dapat memproduksi insulin.

c.       Gestational Diabetes Melitus pada golongan ini hanya terjadi pada ibu hamil.

d.      Gangguan toleransi glukosa.

e.       Malnutrisi Related Diabetes Melitus.

3.  Anatomi dan Fisiologi Pankreas

Pankreas adalah kelenjar majemuk bertandan , strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah, panjangnya kurang lebih 15 cm, mulai dari duodenum sampai limpa, terletak melintang dibagian atas abdomen dibelakang gaster didalam ruang retroperitonial dan terdiri dari tiga bagian, yaitu :

a.  Kepala pankreas, yang paling lebar, terletak disebelah kanan rongga abdomen dan didalam lekukan duodenum.

b. Badan pankreas, merupakan bagian utama pada organ tersebut dan letaknya dibelakang lambung dan didepan vertebra lumbalis pertama.

c. Ekor pankreas, adalah bagian yang runcing disebelah kiri dan menyentuh limpa.

Jaringan pankreas terdiri atas lobula daripada sel sekretori yang tersusun mengitari saluran-saluran halus. Saluran ini mulai dari persambungan saluran kecil dari lobula yang terletak didalam ekor pankreas dan berjalan melalui badannya dari kiri ke kanan. Saluran kecil itu menerima saluran dari lobula lain dan kemudian bersatu.

Pankreas merupakan kelenjar ganda yang terdiri dari dua bagian, yaitu bagian eksokrine dan endokrine. Dimana eksokrine dilaksanakan oleh sel sekretori lobula yang membentuk cairan getah pankreas dan yang berisi enzim dan elektrolit untuk pencernaan sebanyak 1500 sampai 2500 ml sehari dengan pH 8 sampai 8,3. Cairan ini dikeluarkan akibat rangsangan dari hormon sekretin dan pankreoenzimin. Sedangkan endokrine terdapat di alveoli pankreas berupa massa pulau kecil yang tersebar diseluruh pangkreas dan disebut Pulau Lengerhans . Setiap pulau berdiameter 75 sampai 150 mikron yang terdiri sel Beta 75 %, sel Alfa 20 %, sel Delta 5 % dan beberapa sel C. Sel Alfa menghasilkan glukagon dan sel Beta merupakan sumber insulin sedangkan sel delta mengeluarkan somatostatin, gastrin dan polipeptida pankreas.

4.      Etiologi

Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM) atau Diabetes tergantung insulin disebabkan oleh destruksi sel beta pulau langerhans akibat proses  autoimun. Sedangkan Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) disebabkan kegagalan relatif sel beta dan  resistensi insulin. Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh sel hati. Sel  beta tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi relatif insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel beta pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa (Mansjoer. A  dkk, 1999).

5.  Patofisiologi

Keadaan tubuh yang sehat makanan seperti karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin serta air dalam saluran cerna dipecah menjadi polisakarida, glukosa menjadi monosakarida, mengalir dalam pembuluh darah vena porta sehingga terjadi rangsang sel beta pankreas untuk mengeluarkan insulin. Monosakarida disimpan diotot dan hati sebagai dalam glikogen, sisanya beredar dalam pembuluh darah dan dikontrol oleh insulin.

Jika glukosa berkurang maka terjadi pemecahan glikogen yang disebabkan oleh reaksi glikogenolisis. Sedangkan bila kadar glukosa berlebihan maka disimpan dalam bentuk glikogen, reaksi ini disebut glikogenesis.

Pada penderita Diabetes Melitus terjadi pengeluaran glukosa yang berlebihan di liver melalui glikogenolisis dan glikoneogenesis serta oleh tidak adekuatnya penggunaan glukosa oleh otot-otot skeletal, jaringan adiposa dan hati. Trigliserida ditransformasi dari sel-sel menuju kehati dirubah menjadi keton yang digunakan oleh otot.

Pada IDDM sekresi insulin sangat sedikit atau tidak ada sama sekali, sedangkan pada NIDDM terdapat ketidak sesuaian Glukosa Sinsing Mekanism oleh sel beta pankreas. Demikian pula pada obesitas, ada penurunan jumlah reseptor insulin pada membran sel otot dan sel lemak. Pada obesitas di ekskresikan sejumlah besar insulin, tapi tidak efektif penggunaannya karena berkurangnya jumlah reseptor insulin. Saat glukosa  darah meningkat  tubulus renal tak mampu mereabsorsi seluruh glukosa saat glumerolus filtrasi sehingga tidak terjadi glukosuria. Glukosa darah yang tinggi menyebabkan osmotik diuresis karena gula bersifat mengikat air. Air, sodium, clorida, photasium dan phospat menjadi hilang keluar bersama urin, sehingga klien menjadi haus. Bila insulin defisiensi atau tidak ada, glukosa tidak dapat masuk kedalam sel dan menyebabkan sel dalam keadaan lapar, tetapi di pihak lain glukosa meningkat dalam tubuh. Jika sel tidak dapat memakai glukosa sebagai bahan bakar,maka alternatif yang digunakan yaitu dengan memecah asam lemak, keton bodies dalam jumlah terbatas. Keton bodies ini berhasil digunakan oleh sel sebagai energi

6.      Manifestasi klinis

Tanda dan gejala yang biasa terjadi pada Diabetes Melitus adalah dengan adanya gejala khas berupa klien banyak makan (polifagia), banyak kencing (poliuria), banyak minum (polidipsia), paralysis, parastesisa. Kadar glukosa dalam darah yang tinggi menyebabkan klien banyak mengeluarkan urin  (poliuria), tubuh akan memerlukan lebih banyak air untuk mengimbangi jumlah besar cairan yang keluar sebagai urine, oleh karena itu klien merasa haus. Tanda-tanda lain  badan terasa lemas dan berat badan menurun, gejala lain yang mungkin dikeluhkan oleh klien Diabetes Melitus adalah kesemutan, gatal, mata kabur dan impotensi pada pria serta pruritus vulva pada wanita.

7.      Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penyaringan perlu dilakukan pada kelompok dengan resiko tinggi untuk Diabetes Mellitus, yaitu kelompok usia dewasa tua (> 40 tahun), obesitas, hipertensi, riwayat keluarga diabetes mellitus, riwayat kehamilan dengan berat badan lahir > 4.000 gr, riwayat Diabetes Melitus pada kehamilan dan dislipidemia.

Pemeriksaan penyaringan dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa sewaktu, kadar gula darah puasa, kemudian dapat diikuti dengan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) standar. Untuk pemeriksaan penyaringan ulangan tiap tahun bagi pasien berusia > 45 tahun tanpa faktor resiko, pemeriksaan penyaring dapat dilakukan tiap tiga tahun

8.      Komplikasi

Berbagai komplikasi dapat terjadi pada klien dengan Diabetes Melitus:

a.    Akut : Koma hipoglikemia, ketoasidosis, koma hiperosmolar nonketotik.

b.   Kronik : Makroangiopati, Mikroangiopati,  Neuropati, Nefropati, Retinopati, kaki diebetik.

9.      Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Diabetes Melitus dalam jangka pendek bertujuan untuk menghilangkan keluhan atau gejala Diabetes Melitus. Sedangkan tujuan jangka panjang adalah untuk mencegah komplikasi. Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa darah, lipid, dan insulin. Lebih penting pula mengajarkan agar pasien mampu mandiri dan hidup normal dengan Diabetes Melitusnya.

a.    Terapi diet, klien Diabetes Melitus dianjurkan dengan diet tinggi serat dengan prinsip jumlah kalori yang tepat, gula dan produk gula dilarang, diit sesuai pola hidup, tinggi serat, cukup vitamin dan mineral.

b.   Terapi latihan, dianjurkan latihan jasmani teratur, 3 – 4 kali setiap minggu selama setengah jam yang sifatnya sesuai CRIPE (Continous, Rhytmical, Interval, Progressive, Endurance training). Latihan yang dapat dijadikan pilihan adalah jalan kaki, joging, lari, renang, bersepeda dan mendayung. Hal yang perlu diperhatikan  jangan memulai olah raga sebelum makan, memakai sepatu yang pas, selalu didampingi oleh orang yang tahu mengatasi serangan hipoglikemia, harus selalu membawa permen, membawa tanda pengenal sebagai penderita Diabetes Melitus, selalu memeriksa kaki  secara cermat setelah olah raga.

c.    Terapi insulin, diberikan sebagai bantuan bila klien telah melakukan pengaturan makan dan olah raga tetapi belum berhasil.

10Manajemen Diet

a.    Diet berisi kalori, protein dan vitamin serta mineral yang adekuat 30 kal/kgBB.

b.  Dapat ditambah 35-40 kal/kgBB untuk aktifitas yang meningkat.

c.  Dapat    dikurangi    15 – 25    kal/kg  BB   untuk pasien gemuk / kurang

beraktifitas.

d.  Tinggi serat.

B.     Asuhan Keperawatan .

Proses keperawatan merupakan masalah yang dinamis dalam usaha memperbaiki atau merawat pasien ke tarap yang optimal melalui mutu pendekatan yang sistemaits untuk mengenal masalah dan membantu pasien dalam mengatasi masalahnya.

Dalam proses keperawatan terdiri dari lima tahap, yaitu :

  1. Pengkajian
  2. Diagnosa keperawatan
  3. Perencanaan
  4. Pelaksanaan/Implementasi
  5. Evaluasi

Di dalam melaksanakan proses keperawatan, perawat harus mempunyai keterampilan khusus agar didapatkan suatu keperawatan yang sempurna, yaitu

  1. Keterampilan intelektual
  2. Keterampilan tekhnik
  3. Keterampilan interpersonal

Konsep Teoritis Asuhan Keperawatan Pada Klien Diabetes Melitus

1.   Pengkajian

Adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut.

Menurut Marilyn. E. Doenges (2000), data dasar pengkajian pasien dengan Diabetes Melitus, yang perlu dikaji adalah :

a.   Aktifitas/Istirahat

Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak atau berjalan, keram otot, tonus otot menurun, gangguan tidur atau istirahat.

Tanda : Takikardia dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan aktifitas, letargi atau disorieantasi, koma.

b. Sirkulasi

Gejala :  Adanya riwayat hipertensi, infark miokar akut, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama.

Tanda :  Takikardia, perubahan tekanan darah postural, hipertensi, nadi yang menurun atau tak ada, disritmia, krekels, kulit panas, kering, kemerahan, bola mata cekung.

c. Integritas ego

Gejala : Stres, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi.

Tanda   :  Ansietas, peka rangsang.

d. Eliminasi

Gejala   :  Perubahan pola berkemih ( poliuria ), nokturia. Rasa nyeri / terbakar, kesulitan berkemih ( infeksi ), ISK baru / berulang, nyeri tekan abdomen, diare.

Tanda   : Urine encer, pucat, kuning, poliuri ( dapat berkembang menjadi oliguri/anuria jika terjadi hipovolemia berat, urine berkabut, bau busuk  infeksi ), abdomen keras, adanya ansietas, bising usus lemah dan menurun, hiperaktif ( diare ).

e. Makanan / cairan

Gejala : Hilang napsu makan, mual, muntah, tidak mengikuti diet, peningkatan masukan glukosa/karbohidrat, penurunan berat badan lebih dari periode beberapa hari / minggu, haus, penggunaan diuretik ( tiazid ).

Tanda            : Kulit kering / bersisik, turgor jelek, kekakuan / distensi abdomen, muntah, pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolic dengan peningkatan gula darah ), bau halitosis/manis, bau buah ( napas aseton ).

f.  Neurosensori

Gejala :  Pusing/pening, sakit kepala, kesemutan,kebas kelemahan pada otot, parestesia, gangguan penglihatan.

Tanda   : Disorientasi, mengantuk, letargi, stupor / koma ( tahap lanjut ), gangguan memori , reflek tendon menurun, kejang.

g.  Nyeri / keamanan

Gejala   :  Abdomen yang tegang / nyeri ( sedang/berat ).

Tanda   :  Wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati.

h.  Pernapasan

Gejala   :  Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan / tanpa sputum purulen ( tergantung adanya infeksi/tidak ).

Tanda   : Lapar udara, batuk dengan / tanpa sputum purulen ( infeksi ), frekuensi pernapasan.

i.  Keamanan

Gejala   :  Kulit kering, gatal, ulkus kulit.

Tanda   :  Demam, diaforesis, kulit rusak, lesi / ulserasi, menurunnya kekuatan umum / rentang gerak, parestesia / paralysis otot termasuk otot-otot pernapasan  ( jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam ).

j.  Seksualitas

Gejala   :  Rabas vagina ( cendrung infeksi ), masalah impoten pada pria, kesulitan orgasme pada wanita.

k.  Penyuluhan / pembelajaran

Gejala : Faktor resiko keluarga, DM, penyakit jantung, stroke, hipertensi, penyembuhan yang lambat, penggunaan obat seperti steroid,  diuretik /tiazid , dilantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah).

Pertimbangan : DRG menunjukkan rerata lama di  rawat 5 sampai 9 hari.

Rencana pemulangan : Mungkin memerlukan bantuan dalam pengaturan diet,pengobatan, perawatan diri, pemantauan terhadap glukosa darah.

  1. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan dibuat setelah data-data terkumpul dan di analisis.

Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada pasien Diabetes Melitus, adalah :

a.       Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diare, muntah, masukan dibatasi, mual, kacau mental.

b.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri   abdomen, perubahan kesadaran.

c.       Resiko tinggi terhadap infeksi (sepsis) berhubungan dengan kadar glukosa tinggi, penururnan fungsi leukosit, perubahan dari sirkulasi,

d.      Perubahan sensori-perseptual (uraikan) berhubungan dengan perubahan kimia endogen, ketidakseimbangan glukosa atau elektrolit.

e.       Kelelahan berhubungan dengan penurunan fungsi metabolik       insufisiensi insulin.

f.       Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit yang tidak dapat diobati, ketergantungan dengan orang lain.

g.      Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang mengingat kesalahan interpretasi informasi, tidak mengenal sumber infomasi.

  1. Perencanaan

Adapun perencanaan keperawatan pada pasien Diabetes Melitus berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul, adalah :

a.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diare, muntah, masukan dibatasi, mual, kacau mental.

Hasil yang diharapkan : Tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba turgor kulit dan pengisisan baik, haluaran urin tepat secara individu, kadar elektrolit dalam batas normal.

Rencana tindakan :

1)      Pantau tanda-tanda vital dan catat adanya perubahan TD.

2)      Pantau pola pernafasan seperti adanya pernafasan kussmaul atau pernafasan berbau keton.

3)      Pantau frekuensi pernafasan, penggunaan otot bantu nafas, adanya sianosis.

4)      Pantau suhu, warna kulit dan kelembaban

5)      Ukur berat badan tiap hari.

6)      Observasi nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit, dan membran mukosa.

7)      Pertahankan pemberian cairan paling sedikit 2500 ml/hari.

8)      Beri lingkungan nyaman.

9)      Kolaborasi dalam pemberian cairan sesuai dengan indikasi

Rasionalisasi :

1)      Hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia, perkiraan berat ringan hipovolemia dapat dibuat ketika tekanan darah sistolik klien turun lebih dari 10 mmhg dari posisi baring keposisi duduk/berdiri.

2)      Paru-paru mengeluarkan asam karbonat melalui pernapasan yang menghasilkan kompensasi alkalosis respiratoris terhadap ketoasidosis, pernapasan yang berbau aseton berhubungan pemecahan asam aseto-asetat dan harus berkurang bila ketosis harus terkoreksi.

3)      Koreksi hiperglikemia dan asidosis akan menyebabkan pola dan frekuensi pernapasan mendekati normal, tetapi peningkatan kerja pernapasan dangkal, cepat serta muncul sianosis.

4)      Demam, menggigil dan diaforesis merupakan hal umum terjadi pada proses infeksi, demam dengan kulit yang kemerahan, kering mungkin sebagai cerminan dari dehidrasi.

5)      Memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti.

6)      Merupakan indikator dari tingkat dehidrasi atau volume sirkulasi yang adekuat.

7)      Mempertahankan hidrasi atau volume sirkulasi.

8)      Menghindari pemanasan yang berlebihan terhadap klien lebih lanjut akan dapat menimbulkan kehilangan cairan.

9)      Tipe dan jumlah dari cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respons secara individual.

b.   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan ketidakcukupan insulin, anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran.

Hasil yang diharapkan : Mencerna jumlah kalori yang tepat, menujukkan tingkat energi yang biasanya, berat badan stabil.

Rencana tindakan :

1)   Timbang berat badan sesuai dengan indikasi.

2)   Tentukan program diet dan  pola makan pasien.

3)   Auskultasi bising usus,catat adanya nyeri abdomen  kembung, mual,pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.

4)   Beri makanan cair yang mengandung nutrien dan elektrolit identifiasi makanan yang disukai.

5)   Observassi tanda-tanda hipoglikimia.

6)   Kolaborasi dalam pemeriksaan gula darah dengan menggunakan “finger stick”.

7)   Pantau pemeriksaan laboratorium, seperti glukosa darah.

Rasionalisasi :

1) Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat termasuk absorbsi dan  utilisasinya.

2)  Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapiutik.

3) Hiperglikemia dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menurunkan motilitas/fungsi lambung yang akan mempengaruhi pilihan intervensi.

4) Pemberian makanan melalui oral lebih baik jika klien sadar dan fungsi    gastrointestinal baik.

5)  Metabolisme karbohidrat mulai terjadi dan gula darah akan  berkurang dan sementara tetap diberikan insulin maka hipoglikemia dapat terjadi, jika klien dalam keadaan koma hipoglikemia mungkin terjadi tanpa memperlihatkan perubahan tingkat kesadaran, secara potensial dapat mengancam kehidupan yang harus dikaji dan ditangani secara cepat melalui tindakan protokol yang direncanakan.

6)  Analisa ditempat tidur terhadap gula darah lebih akurat dari pada memantau gula darah dalam urine yang tidak cukup akurat untuk mendeteksi fluktuasi kadar gula darah dan dapat dipengaruhi oleh ambang ginjal klien secara individual atau adanya retensi urine/gagal ginjal.

7)      Gula darah akan menurun perlahan dengan penggunaan cairan dan terapi insulin terkontrol, dengan pemberian insulin dosis optimal glukosa kemudian dapat masuk kedalam sel dan digunakan untuk sumber kalori, hal ini terjadi sehingga kadar aseton akan menurun dan asidosis dapat dikoreksi.

c.  Resiko tinggi terhadap infeksi (sepsis) berhubungan dengan kadar glukosa tinggi, penururnan fungsi leukosit, perubahan dari sirkulasi.

Hasil yang diharapkan : Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan risiko, mendemonstrasikan tehnik, perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi.

Rencana tindakan :

1)   Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan, seperti demam, kemerahan, adanya pes pada luka, sputum purulen, urin warna keruh atau berkabut.

2)   Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan  pasien

3)   Pertahankan tehnik aseptik pada prosedur invasif berikan perawatan kulit dengan teratur dan jaga kulit agar tetap kering.

4)   Pasang kateter dan lakukan perawatan perineal dengan baik.

5)   Berikan posisi semifowler

6)   Anjurkan untuk makan dan minum adekuat

7)   Kolaborasi untuk pemberian obat antibiotik yang sesuai.

Rasionalisasi :

1)   Klien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nasokomial.

2)   Mencegah timbulnya infeksi silang.

3)   Kadar   glukosa   yang   tinggi   dalam   darah  akan menjadi media

terbaik bagi pertumbuhan kuman.

4) Mengurangi resiko terjadinya ISK, klien koma mungkin memiliki resiko yang khusus jika terjadi retensi urine pada saat awal dirawat.

5)  Memberikan     kemudahan     bagi    paru    untuk     berkembang,

menurunkan resiko terjadinya aspirasi.

6)  Menurunkan kemungkinan terjadinya infeksi, meningkatkan aliran urine untuk mencegah urine yang statis dan membantu dalam mempertahankan pH urine yang menurnkan pertumbuhan bakteri dan pengeluaran organisme dari system organ tersebut.

7)    Penangan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis.

e.    Perubahan sensori-perseptual (uraikan) berhubungan dengan perubahan kimia endogen, ketidakseimbangan glukosa atau elektrolit.

Hasil yang diharapkan : Mempertahankan tingkat mental biasanya,              mengenali dan mengkompensasi adanya kerusakan sensori

Rencana tindakan :

1.         Pantau tanda-tanda vital dan status mental.

2.         Orientasikan kembali sesuai dengan kebutuhan pada pasien misal : orang, tempat dan waktu.

3.         Jadwalkan intervensi keperawatan agar tidak mengganggu waktu istirahat klien.

4.         Pelihara aktifitas rutin klien sekonsisten mungkin dan motivasi untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai kemampuannya.

5.         Lindungi pasien dari cedera ketika tingkat kesadaran pasien terganggu.

6.         Evaluasi lapang pandang penglihatan sesuai dengan indikasi.

7.      Selidiki adanya keluhan paraestesia, nyeri atau kehilangan sensori pada kaki.

8.         Beri tempat tidur yang lembut.

9.         Bantu pasien dalam perubahan posisi.

10.     Kolaborasi dalam pemberian terapi sesuai dengan indikasi.

11.     Pantau nilai laboratorium seperti nilai glukosa darah dan HB.

Rasionalisai :

1)      Sebagai dasar untuk membandingkan temuan abnormal seperti suhu yang meningkat dapat mempengaruhi fungsi mental.

2)      Menurunkan kebingungan dan membantu untuk mepertahankan kontak dengan realitas.

3)      Meningkatkan tidur, menurunkan rasa letih dan dapat memperbaiki daya pikir.

4)      Membantu memelihara klien tetap berhubungan dengan realitas dan mempertahankan orientasi pada lingkungan.

5)      Disorientasi merupakan awal dari kemungkinan cedera terutama malam hari dan perlu pencegahan sesuai indikasi.

6)      Oedema/lepasnya retina, hemoragik, katarak, paralysis  otot ekstraokuler sementara mengganggu penglihatan yang memerlukan terapi korektif.

7)      Neuropati perifer dapat mengakibatkan rasa tidak nyaman yang berat, kehilangan sensasi sentuhan/distorsi yang mempunyai resiko tinggi terhadap kerusakan kulit dan gangguan keseimbangan.

8)      Meningkatkan rasa nyaman dan menurunkan kemungkinan kerusakan kulit karena panas.

9)      Meningkatkan keamanan klien terutama ketika rasa keseimbangan dipengaruhi.

10)  Gangguan dalam proses piker/potensial terhadap aktifitas kejang biasanya hilang bila keadaan hiperosmolaritas teratasi.

11)  Ketidakseimbangan nilai laboratorium dapat menurunkan fungsi mental.

f.    Kelelahan berhubungan dengan penurunan fungsi metabolik insufisiensi insulin

 Hasil yang diharapkan : Mengungkapkan peningkatan tingkat energi,  menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan.

Rencana tindakan :

1)Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitas dan buat jadwal perencanaan dengan pasien dan identifikasi aktivitas yang menunjukkan kelelahan.

2)   Beri aktivitas alternatif dengan periode aktivitas yang cukup.

3)   Pantau nadi, pernafasan, dan tekanan darah sebelum dan sesudah aktivitas.

4)   Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi, berpindah tempat dan sebagainya.

5)   Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sesuai dengan yang dapat ditoleransi.

Rasionalisasi :

1)      Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan tingkat aktifitas meskipun klien mungkin sangat lemah.

2)      Mencegah kelelahan yang berlebihan.

3)      Mengindikasikan tingkat aktifitas yang dapat ditoleransi secar fisiologis.

4)      Klien akan dapat melakukan lebih banyak kegiatan dengan penurunan kebutuhan akan energi pada setiap kegiatan.

5)      Meningkatkan kepercayaan diri/harga diri yang positif sesuai tingkat aktifitas yang dapat ditoleransi klien.

g.   Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit yang tidak dapat diobati, ketergantungan dengan orang lain.

Hasil yang diharapkan :  Mengakui perasaan putus asa, mengidentifikasi cara-cara sehat untuk menghadapi perasaan, membantu dalam merencanakan perawatan sendiri dan secara mandiri mengambil tanggung jawab untuk aktivitas perawatan diri.

Rencana tindakan :

1)   Anjurkan pasien atau keluarga untuk mengekspresikan perasaannya   tentang perawatan dan penyakitnya secara keseluruhan.

2)   Observasi bagaimana pasien telah menangani masalahnya di masa lalu.

3)   Berikan kesempatan pada keluarga untuk mengekspresikan perhatiannya dan diskusikan cara mereka dapat membantu sepenuhnya terhadap klien.

4)   Tentukan tujuan/harapan dari pasien atau keluarga.

5)   Anjurkan pasien untuk membuat keputusan sehubungan dengan perawatannya.

6)   Berikan dukungan pada pasien untuk berperan serta dalam merawat diri sendiri dan beri umpan balik positif sesuai dengan usaha yang dilakukannya.

Rasionalisasi :

a.        Mengidentifikasi area perhatiannya dan memudahkan cara pemecahan masalah.

b.      Pengetahuan gaya individu membantu untuk menentukan kebutuhan terhadap tujuan penanganan.

c.      Meningkatkan perasaan terlibat dan memberikan kesempatan keluarga untuk memecahkan masalah untuk membantu mencegah terulangnya penyakit pada klien lagi.

d.      Harapan yang tidak realistis atau adanya tekanan dari orang lain atau diri sendiri dapat mengakibatkan perasaan frustasi/kehilangan  kontrol diri dan mungkin mengganggu kemampuan koping.

e.       Mengkomunikasikan pada klien bahwa beberapa pengendalian dapat dilatih pada saat perawatan dilakukan.

f.       Meningkatkan perasaan kontrol terhadap situasi.

h.   Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang mengingat kesalahan interpretasi informasi, tidak mengenal sumber infomasi.

Hasil yang diharapkan :  Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit, mengidentifikasi hubungan, tanda dan gejala dengan proses penyakit, dengan benar melakukan prosedur yang perlu dan menjelaskan rasional tindakan, melakukan perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan.

Rencana tindakan :

1.      Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan dan selalu ada untuk pasien.

2.      Bekerja dengan pasien dalam menata tujuan belajar yang diharapkan.

3.      Pilih strategi belajar seperti teknik demonstrasi dan membiarkan pasien mendemonstrasikan ulang.

4.      Diskusikan topik-topik yang utama.

5.      Diskusikan cara pemeriksaan gula darah.

6.      Diskusikan tentang rencana diet.

7.      Tinjau kembali pemberian insulin oleh klien dan perawatan terhadap peralatan yang digunakan.

8.      Tekankan pentingnya pemeriksaan gula darah setiap hari, waktu dan dosis obat.

9.      Diskusikan factor-faktor yang memegang peranan dalam kontrol DM.

10.  Buat jadual latihan/aktifitas  secara teratur.

11.  Anjurkan untuk tidak menggunakan obat-obat yang dijual bebas tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan.

12.  Lihat kembali tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi secara medis.

13.  Demonstrasikan teknik penanganan stress seperti teknik napas dalam.

Rasionalisasi :

1)      Menanggapi dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum klien bersedia mengambil bagian dalam proses keperawatan.

2)      Partisipasi dalam perencanaan meningkatkan antusias dan kerja sama klien dengan prinsip yang dipelajari.

3)      Penggunaan cara yang berbeda tentang mengakses informasi meningkatkan penyerapan pada individu yang belajar.

4)      Memberikan pengetahuan dasar dimana klien dapat membuat pertimbangan dalam memilih gaya hidup.

5)      Pemeriksaan gula darah oleh diri sendiri 4 kali setiap hari atau lebih memungkinkan fleksibilitas dalam perawatan diri.

6)      Pentingnya kontrol diet akan membantu klien dalam merencanakan makan dan mentaati program.

7)      Mengidentifikasikan pemahaman dan kebenaran dari prosedur atau masalah yang potensial dapat terjadi sehingga solusi alternatif dapat ditentukan untuk pemberian insulin tersebut.

8)      Membantu dalam menciptakan gambaran nyata dari keadaan klien untuk melakukan kontrol penyakitnya dengan lebih baik.

9)      Informasi ini penting untuk meningkatkan pengendalian terhadap DM dan dapat sangat menurunkan berulangnya kejadian ketoasidosis.

10)  Waktu latihan tidak boleh bersamaan waktunya dengan kerja puncak insulin, makanan harus diberikan sebelum atau selama latihan sesuai dengan kebutuhan dan rotasi injeksi harus menghindari kelompok otot yang akan digunakan aktifitas.

11)  Produktifitas mungkin mengandung gula atau berinteraksi dengan obat-obat yang diresepkan.

12)  Intervensi segeral dapat mencegah perkembangan komplikasi yang lebih serius atau komplikasi yang mengancam.

13)  Meningkatkan relaksasi dan pengendalian terhadap respon stress yang dapat membantu untuk membatasi peristiwa ketidakseimbangan glukosa/insulin.

  1. Pelaksanaan

Pelaksanaan adalah penerapan tindakan-tindakan perawatan yang telah direncanakan. Pada tahap pelaksanaan yang dilakukan adalah melaksanakan tindakan keperawatan yang telah direncanakan. Prioritas tindakan keperawatan yang akan dilakukan adalah: memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit serta asam basa, memperbaiki metabolisme abnormal, mengidentifikasi atau membantu penanganan terhadap penyebab atau penyakit yang mendasar, dan mencegah komplikasi. Setelah semua tindakan dilaksanakan maka akan dilanjutkan dengan pendokumentasian semua tindakan yang telah dilakukan beserta hasil-hasilnya.

  1. Evaluasi

Evaluasi adalah menilai keberhasilan rencana keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien. Evaluasi merupakan indikator keberhasilan dalam proses keperawatan. Evaluasi berdasarkan  yaitu :

a.       Volume cairan terpenuhi atau hidrasi adekuat.

b.      Kebutuhan pemenuhan nutrisi terpenuhi dari kebutuhan tubuh.

c.       Tidak terjadi infeksi ( sepsis ).

d.      Tidak terjadi perubahan pada sensori – perseptual.

e.       Kelelahan pada klien dapat teratasi.

f.       Klien dapat mandiri dalam kebutuhan rutinitas / ketidakberdayaan   tidak terjadi.

g.      Klien dan keluarga dapat mengetahui tentang penyakit, prognosis, dan pengobatan klien selama dirawat.

DAFTAR PUSTAKA.

Brunner & Suddarth. (2002).Buku ajar keperawatan medikal bedah. Ed. VIII Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Carpenito, L.J. (2000). Diagnosa keperawatan aplikasi pada praktik klinis.     Ed. VI. Jakarta : EGC.

Doengoes, Marylin E, et. al. (2000). Penerapan proses keperawatan dan diagnosa keperawatan. Jakarta. EGC.

Doengoes, Marylin E, et. al. (1999). Rencana asuhan keperawatan. Jakarta. EGC.

Doengoes, Moorhouse & Geissler. (1999). Rencana asuhan keperawatan Ed.  III. Jakarta. EGC.

Ramali & Pamoentjak. (1999). Kamus kedokteran Ed. revisi Penerbit : Buku Kedokteran. EGC.

Syamsu Hidayat, R. Wim De Jong. (1997). Buku ajar umum bedah Ed. Revisi. Jakarta. EGC.


Tinggalkan komentar

Askep Hipertensi

                                                                                       Askep hipertensi

HIPERTENSI

A. Konsep Dasar Teori

1.      Pengertian

Sampai saat ini masih belum ada defenisi yang tepat mengenai hipertensi karena tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara hipertensi dan normotensi. Secara teoritis hipertensi didefenisikan sebagai suatu tingkat tekanan darah tertentu.

Definisi hipertensi menurut Mansjoer. A. adalah tekanan darah sistolik ³ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ³ 90 mmHg, atau bila pasien memakai obat anti hipertensi.

Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood pressure (JNC) sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi maligna. Keadaan ini dikategorikan sebagai primer/esensial (hampir 90% dari semua kasus) atau sekunder, terjadi sebagai akibat dari kondisi patologi yang dapat dikenali, seringkali dapat diperbaiki.

Klasifikasi menurut WHO/ISH

Klasifikasi Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normotensi

Hipertensi ringan

Hipertensi perbatasan

Hipertensi sedang dan berat

Hipertensi sistolik terisolasi

Hipertensi sistolik perbatasan

< 140

140-180

140-160

> 180

> 140

140-160

< 90

90-105

90-95

> 105

< 90

< 100

  1. Etiologi

Berdasarkan etiologinya hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu:

a. Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem renin –  angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca interselular, dan faktor – faktor yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia.

b.      Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom Cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lain–lain. (Mansjoer,A,1999).

  1. Patofisiologi

Tekanan darah =   Curah Jantung             x          Tahanan perifer

4. Tanda dan Gejala

Peninggian tekanan darah kadang – kadang merupakan satu – satunya gejala. Bila demikian, gejala baru akan muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdenging, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang – kunang dan pusing.

5.      Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi bertujuan menentukan adanya kerusakan organ atau faktor resiko lain atau mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urinalisa, darah lengkap, kimia darah (kalium, Natrium, gula darah puasa, kolesterol total, kolesterol HDL) dan EKG

Sebagai tambahan dapat dilakukan pemeriksaan lain seperti klirens kreatinin, protein, urine 24 jam, asam urat, kolesterol LDL, TSH dan Echokardiografi.

6. Penatalaksanaan

a.       Tujuan Pengobatan Hipertensi

1)      Menurunkan tekanan darah sampai normal atau mendekati normal, tanpa menggangu aktivitas sehari-hari. Dengan demikian dapat komplikasi dan menurunkan morbiditas dan mortalitas.

2)      Prevansi terhadap peninggian tekanan darah dan “heat rate” secara akut selama “exercise” dan stress.

b.      Obat-obat Anti Hipertensi

1)      Diuretik

a)      Kemanjuran maksimal rendah.

Indapamid (Lozol), Ftalimidin, Tiazid.

b)      Kemanjuran maksimal tinggi

Bumetanid (Bumex), Asam Etakrinat (Edeerin), Furosemid (Lasix).

c)      Hemat Kalium.

Amilorid (Midomir), Spironolakton (Aldaetone), Trianteren (Dyrenium).

2)      Obat Simpatolitik

a)      Bekerja pada SPP

Klonidin (Catapres), Guanabenz (Wytensin), Metildopa (Aldomet).

b)      Bekerja pada gonglion otonom

Trimetafan (Arfonad).

c)      Bekerja pada neuron simpatis pasca ganglion

Guanadrel (Hylorel), Guanetidin (Isenelin), Penghambat monoamin oksidase, Reserpin.

d)     Penghambat reseptor

(1)   Adrenoreseptor Alfa Bloker

Fenoksibenzamin (Dibenzyline), Fentolamin (Reqitinin), Prazosin (Minipres).

(2)   Adrenoreseptor Beta Bloker

Atenol (Tenormin), Labetol (Normodyne, Trandate), Metoprolol (Lopressor), Nadolol (Corgard), Pindolol (Visken), Propanolol (Inderal), Timolol (Blocadren).

(3)   Vasodilator

Diazoksid (Hyperstat), Diltiazem (Cardizem), Hydralazin (Apresoline), Minoksidil (Lomitmen), Nifedipin (Adelat, Procardia), Verapamil (Calan, Isoptin).

(4)   Penghambat sistem renin angiostenin

Captopril (Capoten), Enalapril (Vasotec), Saralisin (Sarenin).

c.       Diit Hipertensi/Diit Rendah Garam

Hipertensi dapat dikendalikan dengan Diit rendah Garam. Diit Rendah Garam merupakan diit dengan pembatasan konsumsi garam untuk membantu menghilangkan retensi garam/air dalam jaringan tubuh dan menurunkan Tekanan Darah pada Hipertensi.

1)      Syarat-syarat Diit Rendah Garam

a)      Cukup kalori, mineral dan vitamin

b)      Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan penyakit

c)      Jumlah natrium yang diperoleh disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam/air dan/atau Hipertensi.

2)      Macam Diit Rendah Garam

Jika ditinjau dari jumlah natrium yang perlu dikonsumsi, Diit Rendah Garam dibagi menjadi 3 yaitu :

a)      Diit Rendah Garam I (DRG I) mengandung natrium 200-400 mg.

b)      Diit Rendah Garam II (DRG II) mengandung natrium 600-800 mg.

c)      Diit Rendah Garam III (DRG III) mengandung natrium 1000-1200 mg.

Ad. a) DRG I

Dalam pemasakan tidak ditambahkan garam dapur. Bahan makanan tinggi natrium dihindarkan. Makanan diberikan kepada penderita dengan Oedema, Acites dan/atau Hipertensi Berat.

Ad. b) DRG II

Pemberian makanan sama dengan DRG I. dalam pemasakan makanan diperbolehkan menggunakan ¼ sendok teh garam dapur (1 gr). Bahan makanan tinggi natrium dihindarkan. Makanan ini diberikan kepada penderita dengan Oedema, Ascites dan/atau Hipertensi sedang

Ad. c) DRG III

Pemberian makanan sama dengan DRG I. Dalam pemasakan boleh diberi garam dapur ½ sendok teh (2 gr). Makanan ini diberikan kepada penderita dengan edema, dan/atau Hipertensi Ringan.

7. Komplikasi

Penyakit hipertensi bila tidak dikontrol secara teratur akan berlanjut kearah penyakit yang mematikan seperti :

a.        Penyakit jantung

b.       Cedera serebrovaskular pada otak

c.        Gagal ginjal

d.       Kerusakan optik retina

B.     Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Pengkajian adalah dasar utama dari proses keperawatan. Pengkajian adalah langkah awal dalam salah satu proses keperawatan (Gaffar, 1999) Kegiatan yang dilaksanakan dalam pengkajian adalah pengumpulan data dan merumuskan prioritas masalah. Pada pengkajian – pengumpulan data yang cermat tentang klien, keluarga, didapatkan data melalui wawancara, observasi dan pemeriksaan.

Tujuan dari pengkajian keperawatan adalah mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisa data. Sehingga disimpulkan menjadi diagnosa keperawatan (Gaffar, 1999).

Dasar data pengkajian klien menurut Doenges (2000) :

a.       Aktivitas/istirahat

Gejala          :   kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.

Tanda          :   frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung.

b.      Sirkulasi

Gejala          :   riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan panyakit serebrovaskular. Episode palpitasi, perspirasi.

Tanda          :   kenaikan tekanan darah, hipotensi postural, takikardi, pengisian kapiler lambat, pucat, sianosis, diaforesis, dan kemerahan (feokromositoma).   

c.       Integritas Ego

Gejala          :   ansietas, marah.

Tanda          :   gerak tangan empati, peningkatan pola bicara.

d.      Eliminasi

Gejala          :   gangguan ginjal saat ini atau yang lalu.

e.       Makanan/Cairan

Gejala          :   makanan yang disukai, yang mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol, mual, muntah, perubahan berat badan (meningkat/menurun).

f.       Neurosensori

Gejala          :   keluhan pening/pusing, berdenyut, sakit kepala suboksipital.

episode kebas dan/atau kelemahan pada satu sisi, gangguan penglihatan.

Tanda          :   status mental: perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, afek, proses pikir, atau memori (ingatan).

g.      Nyeri/ketidaknyamanan

Gejala          :   angina, sakit kepala oksipital berat seperti pernah terjadi sebelumnya.

h.      Pernafasan

Gejala          :   dispnea, takipnea, riwayat merokok, batuk dengan/tanpa sputum.

Tanda          :   distress respirasi, bunyi nafas tambahan, sianosis.

i.        Keamanan

Gejala          :  gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan dibagi sesuai dengan masalah kesehatan klien yaitu :

a.        Aktual, diagnosa keperawatan yang menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang ditemukan.

b.       Potensial, diagnosa keperawatan yang menjelaskan bahwa masalah kesehatan yang nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi keperawatan. Saat ini masalah belum ada tapi etiologi sudah ada.

c.        Kemungkinan, diagnosa keperawatan yang mejelaskan bahwa perlu data tambahan untuk memastikan tambahan masalah. Pada keadaan ini masalah dan faktor pendukung belum ada tapi sudah ada faktor yang menimbulkan masalah.

Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada klien dengan hipertensi, menurut Doenges (2000), yaitu :

a.        Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan Peningkatan afterload, vasokonstriksi dan Iskemia miokardia.

b.       Intoleran aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.

c.        Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan Peningkatan tekanan vaskular serebral.

d.       Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan yang berlebihan, pola hidup monoton, keyakinan budaya.

e.        Koping individu inefektif berhubungan dengan Krisis situasional/maturasional, sistem pendukung tidak adekuat, metode koping tidak efektif.

f.        Kurang pengetahuan mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan Kurang pengetahuan/daya ingat, mis interpretasi informasi, keterbatasan kognitif.

3. Perencanaan

Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka disusunlah perencanaan keperawatan. Perencanaan adalah tahap ketiga dari proses keperawatan, yang dimulai setelah data-data terkumpul sudah dianalisa. Pada bagian ini ditentukan sasaran yang akan tercapai dan rencana tindakan keperawatan dikembangkan.

Tahapan dari perencanaan ini terdiri dari :

a.     Menetapkan prioritas masalah berdasarkan pola kebutuhan dasar manusia menurut hirarki Maslow

b.       Merumuskan tujuan keperawatan yang dicapai

c.       Menetapkan kriteria evaluasi

d.      Merumuskan intervensi keperawatan dan aktifitas keperawatan

Tujuan yang ditetapkan harus nyata, dapat diukur dan mempunyai batasan waktu pencapaian.

Yang dimaksud dengan tujuan jangka pendek adalah tujuan yang biasanya harus dicapai sebelum pemulangan atau perpindahan pasien ke tingkat perawatan yang kurang akut dan tujuan ini biasanya mengarah kepada penyebab masalah pasien. Sedangkan tujuan jangka panjang mengidentifikasi arah keseluruhan atau hasil akhir perawatan dan mungkin sangat baik mengarah pada masalah pasien (Donges, Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan, 1998).

Perencanaan dengan berpedoman pada SMART yaitu : Spesifik (khusus dilakukan pada pasien den keluarga lainnya), Measurable (dapat diukur), Achievable (dapat dicapai), Reasonable (nyata) dan Time ( menggunakan batas waktu dalam pencapaiannya)..

1.      Diagnosa keperawatan  I

Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan Peningkatan afterload, vasokonstriksi dan Iskemia miokardia, hipertropi/rigiditas (kekakuan) ventrikular.

Hasil yang diharapkan/kriteria hasil :

a.    Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah/beban kerja jantung

b.   Mempertahankan tekanan darah dalam rentang individu yang dapat diterima

c.    Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal pasien.

Intervensi :

1)      Pantau tekanan darah, ukur  pada kedua tangan/paha untuk evaluasi awal. Gunakan ukuran manset yang tepat dan tehnik yang akurat

Rasional               :    Perbandingan  dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskular.

2)      Catat keberadaan, kualitas denyutan, sentral dan perifer

Rasional               :    Denyutan karotis,jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati/terpalpasi.

3)      Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas

Rasional               :    S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertrofi atrium(peningkatan volume/tekanan atrium).

4)      Amati warna kulit, kelemahan suhu, dan masa pengisian kapiler

Rasional               :    Adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokontriksi atau mencerminkan dekompensasi/penurunan curah jantung.

5)      Catat odema umum/tertentu.

Rasional               :    Dapat mengindikasikan gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskular.

6)      Berikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurangi aktivitas/keributan lingkungan, batasi jumlah pengunjung.

Rasional               :    Membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis; meningkatkan relaksasi.

7)      Pertahankan pembatasan aktivitas

Rasional               :    menurunkan strees dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah dan prjalanan penyakit hipertensi.

8)      Lakukan tindakan-tindakan yang nyaman seperti pijatan punggung, leher, meninggikan kepala tempat tidur.

Rasional               :    mengurangi ketidaknyamanan dan dapatkan menurunkan rangsangan simpatis.

9)      Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan.

Rasional               :    Dapat meurunkan rangsangan yang menimbulkan stres, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan tekanan darah.

2.     Diagnosa  Keperawatan :II

Intoleran aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.

Hasil yang diharapkan/kriteria hasil :

a.       Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan

b.      Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.

c.       Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi aktivitas.

Intervensi :

1)      Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20x/menit diatas frekuensi istirahat. Peningkatan tekanan darah yang nyata selama/sesudah aktivitas.

Selidiki adanya dispnea atau nyeri dada, keletihan dan kelemahan yang berlebihan, diaforesis, pusing atau pingsan.

Rasional               :    Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respons fisiologis terhadap stres aktivitas dan, bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas

2)      Ajarkan teknik penghematan energi.

Rasional               :    Tehnik penghematan energi mengurangi penggunaan energi, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.

3)      Beri dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri secara bertahap yang dapat ditoleransi.

Rasional               :    Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba – tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan dan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.

3.     Diagnosa III

Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan Peningkatan tekanan vaskular serebral.

Hasil yang diharapkan/kriteria hasil :

a)      Melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang/terkontrol

b)      Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan

c)      Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan.

Intervensi :

1)       Pertahankan tirah baring selama fase akut

Rasional               :    Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi.

2)       Berikan tindakan non farmakologis untuk menghilangkan nyeri kepala

Rasional               :    Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang memperlambat/memblok respons simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.

3)       Hilangkan/minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala.

Rasional               :    Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala, pasien juga dapat mengalami episode hipotensi postural.

4)       Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan

Rasional               :    Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan episode hipotensi postural.

5)       Berikan makanan lunak, cairan dan perawatan mulut

Rasional               :    Meningkatkan kenyamanan umum.

6)       Bila terjadi perdarahan hidung kompres hidung

Rasional               :    Kompres hidung dapat mengganggu menelan atau membutuhkan nafas dengan mulut, menimbulkan stagnasi sekresi oral dan mengeringkan membran mukosa.

7)       Kolaborasi obat-obatan sesuai indikasi : analgesik, antiansietas.

Rasional               :    Menurunkankan/mengontrol nyeri, mengurangi ketegangan dan ketidak nyamanan yang diperberat stres.

4.     Diagnosa IV

Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan yang berlebihan, pola hidup monoton, keyakinan budaya.

Hasil yang diharapkan/kriteria hasil :

a)      Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dengan kegemukan

b)      Menunjukkan perubahan pola makan

c)      Melakukan/mempertahankan program olahraga

Intervensi :

1)       Kaji pemahaman klien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan.

Rasional               :    Kegemukan adalah resiko tambahan pada hipertensikarena disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan peningkatan massa tubuh.

2)       Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori, lemak dan garam.

Rasional               :    Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya arterosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi dari hipertensi dan komplikasinya, misal : stroke penyakit ginjal, gagal jantung.

3)       Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan.

Rasional               :    Motivasi untuk menurunkan berat badan adalah internal.

4)       Kaji ulang masukan kalori harian dari pilihan diet.

Rasional               :    Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dalam program diit terakhir.

5)       Tetapkan rencana penurunan berat badan yang realistis.

Rasional               :    Penurunan masukan kalori seseorang sebanyak 500 kalori per hari secara teori dapat menurunkan berat badan 0,5 kg/minggu.

6)       Dorong pasien untuk mempertahankan masukan makanan harian.

Rasional               :    Memberikan data  dasar tentang keadekuatan nutrisi yang dimakan, dan kondisi emosi saat makan.

7)       Ajarkan untuk memilih makanan yang tepat

Rasional               :    Menghindari makanan yang tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis..

8)       Kolaborasi dengan ahli gizi.

Rasional               :    Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit individu.

5.     Diagnosa V

Koping individu inefektif berhubungan dengan Krisis situasional/maturasional, sistem pendukung tidak adekuat, metode koping tidak efektif.

Hasil yang diharapkan/kriteria hasil :

a)      Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekuensinya.

b)      Menyatakan kesadaran kemampuan koping/kekuatan pribadi.

c)      Mengidentifikasi situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari.

d)     Mendemonstrasikan keterampilan metode koping efektif.

Intervensi :

1)       Kaji keefektifan strategi koping.

Rasional               :    Mekanisme adaftif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang , menghindari hipertensi kronis, mengintegrasikan terapi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari – hari.

2)       Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, konsentrasi, peka rangsangan, toleransi sakit kepala.

Rasional               :    Manifestasi mekanisme koping maladaftif mungkin merupakan indikator, marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu tekanan darah diastolik.

3)       Bantu pasien mengidentifikasi stressor.

Rasional               :    Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respons seseorang terhadap stressor.

4)       Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan.

Rasinal                 :    Keterlibatan memberikan  pasien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping, dan dapat meningkatkan kerja sama dalam regimen terapiutik.

5)       Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas/tujuan hidup.

Rasional               :    Fokus realitas pasien pada situasi yang ada relatif terhadap pandangan pasien tentang apa yang diinginkan.

6)       Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup.

Rasional               :    Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistik untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya.

6.     Diagnosa VI

Kurang pengetahuan mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan Kurang pengetahuan/daya ingat, misinterpretasi informasi, keterbatasan kognitif.

Hasil yang diharapkan/kriteria hasil :

a)      Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit

b)      Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan.

c)      Mempertahankan tekanan darah dalam parameter normal.

Intervensi :

1)       Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar

Rasional               :    Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minat pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan,  dan prognosis.

2)       Tetapkan dan nyatakan batas tekanan darah normal

Rasional               :    Memberikan dasar untuk pemahaman tentang peningkatan tekanan darah dan mengklarifikasikan istilah medis yang sering digunakan.

3)       Hindari mengatakan “tekanan darah normal” gunakan istilah “terkontrol dengan baik”.

Rasional               :    Karena pengobatan hipertensi adalah sepanjang kehidupan, maka ide penyampaian ide “terkontrol” akan membantu pasien untuk memahami kebutuhan untuk melanjutkan pengobatan/medikasi.

4)       Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor resiko kardiovaskuler yang dapat dirubah, misalnya : obesitas, rokok dan alkohol, pola hidup penuh stress.

Rasional               :    Faktor – faktor risiko ini telah menunjukkan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler dan ginjal.

5)       Identifikasi perubahan gaya hidup yang tepat untuk mengurangi faktor-faktor diatas.

Rasional               :    Fakto – faktor risiko dapat meningkatkan proses penyakit atau memperburuk gejala.

6)       Bahas pentingnya menghentikan merokok

Rasional               :    Nikotin meningkatkan pelepasan katekolamin, mengakibatkan  peningkatan frekuensi jantung, tekanan darah,dan vasokontriksi, mengurangi oksigenisasi jaringan, dan meningkatkan keberhasilan pasien dalam menyelesaikan tugas ini.

7)       Beri penguatan pentingnya kerja sama dalam regimen pengobatan dan mempertahankan perjanjian tindak lanjut..

Rasional               :    Kurangnya kerja sama adalah alasan umum kegagalan terapi antihipertensif

8)       Intruksikan dan peragakan tehnik pemantauan tekanan darah mandiri.

Rasional                :    Dengan mengajarkan klien atau orang terdekat untuk memantau tekanan darah adalah meyakinkan untuk klien.

9)       Bantu pasien untuk menegmbangkan jadwal yang sederhana, memudahkan untuk minum obat.

Rasional               :    Dengan mengindividualisasikan jadwal pengobatan sehingga sesuai dengan kebiasaan/kebutuhan pribadi klien.

10)   Beri penjelasan obat (dosis dan efek samping).

Rasional               :    Informasikan yang adekuat dan pemahaman bahwa efek samping adalah umum dan sering menghilang dengan berjalannya waktu.

11)   Motovasi untuk membuat program olahraga sendiri.

Rasional               :    Selain membantu menuryunkan tekanan darah, aktivitas aerobik merupakan alat menguatkan sistem kardiovaskular.

12)   Bila terjadi perdarahan hidung lakukan kompres es pada punggung leher dan tekan pada 1/3 ujung hidung dan anjurkan pasien untuk menundukkan kepala ke depan.

Rasional               :    Kapiler nasal dapat ruptur sebagai akibat dari tekanan vaskular berlebihan.

  1. Pelaksanaan

Pelaksanaan adalah penerapan tindakan-tindakan perawatan yang telah direncanakan. Pada tahap pelaksanaan yang dilakukan adalah melakukan tindakan-tindakan keperawatan yang telah direncanakan dan dilanjutkan dengan pendokumentasian semua tindakan yang telah dilakukan beserta hasil-hasilnya.

Beberapa petunjuk pada pelaksanaan adalah sebagai berikut :

a.       Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi.

b.      Keterampilan interpersonal, intelektual, teknikal, dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat.

c.       Keamanan fisik dan psikologis dilindungi.

d.      Dokumentasi intervensi dan respons klien.

Setelah pelaksanaan selesai, dilakukan dokumentasi intervensi secara tertulis pada catatan keperawatan dan proses keperawatan.

Pada klien Hipertensi beberapa prinsip pelaksanaan yang dapat dilakukan adalah :

a.        Latihan gerak badan/olahraga teratur khususnya pada penderita yang gemuk.

b.       Hindari mengkonsumsi makan makanan yang banyak mengandung garam dan lemak yang tinggi.

c.        Hindari perilaku hidup tidak sehat seperti merokok, minum alkohol, dan stres yang berlebihan.

d.       Selalu melakukan kontrol terhadap kesehatannya ke pusat pelayanan kesehatan.

  1. Evaluasi

Evaluasi asuhan keperawatan adalah tahap akhir proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai hasil akhir dari keseluruhan tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Tahap evaluasi merupakan indikator keberhasilan dalam penggunaan proses keperawatan.

Evaluasi terdiri dari dua bagian yaitu :

a.       Tinjauan laporan klien harus mencakup riwayat perawatan, kartu catatan, hasil-hasil tes dan semua laporan observasi.

b.       Pengkajian kembali terhadap klien berdasarkan pada tujuan kriteria yang diukur dan mencakup reaksi klien terhadap lingkungan yang dilakukan. Reaksi klien secara fisiologis dapat diukur dengan kriteria seperti mengukur tekanan darah, suhu dan lain – lain..

Evaluasi yang dapat dilihat pada klien dengan Hipertensi :

a.        Klien menunjukan kepatuhan terhadap anjuran-anjuran yang diberikan.

b.       Klien dapat melakukan kontrol rutin ke tempat pusat pelayanan kesehatan.

c.        Menunjukan perubahan dalam pola hidup kearah yang sehat.


Tinggalkan komentar

Plasenta Previa

Plasenta Previa
A. Teori Medis
1. Definisi
Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus,sehingga dapat menutupi sebagaian atau seluruh jalan lahir.( Sarwono 2011 )
Sedangkan plasenta previa letak rendah merupakan klasifikasi dari plasenta previa dan Dikutip dari Prof. Sulaiman Sastrowinata. Obstetri Fisiologi. 2000. Bandung. Berdasarkan pendapat beliau plasenta letak rendah (Low Lying Placenta) adalah tepi plasenta berada 3 – 4 cm diatas pinggir pembukaan. Pada pemeriksaan dalam tidak teraba. Dan plasenta yang implantasinya rendah tapi tidak sampai keostium uteri internum.
2. Klasifikasi
Menurut penulis buku-buku Amerika Serikat tali pusat berhubungan dengan plasenta biasanya ditengah keadaan ini biasanya disebut dengan Insersia Sentralis. Letak plasenta umumnya berada didepan/dibelakang dinding uterus. Agak keatas kearah fundus uteri hal ini fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi. Bila diteliti benar maka plasenta sebenarnya berasal dari sebagian besar dari bagian janin, yaitu Villi Korealis yang berasal dari korion dan sebagian kecil dari ibu yang berasal dari desida basalis. Menurut Browne klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu, yaitu:
a. Plasenta Previa Totalis
Bila plasenta menutupi seluruh jalan lahir pada tempat implantasi jelas tidak mungkin bayi dilahirkan in order to vaginam (normal/spontan/biasa), karena risiko perdarahan sangat hebat.
b. Plasenta Previta Parsialis
Bila hanya sebagian/separuh plasenta yang menutupi jalan lahir. Pada tempat implantasi inipun risiko perdarahan masih besar dan biasanya tetap tidak dilahirkan melalui pervaginam.
c. Plasenta Previa Marginalis
Bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir bisa dilahirkan pervaginam tetapi risiko perdarahan tetap besar.
d. Low Lying Placenta (Plasenta Letak Rendah)
Lateralis plasenta atau kadang disebut juga plasenta berbahaya tempat implantasi beberapa millimeter atau cm dari tepi jalan lahir risiko perdarahan tetap ada, namun bisa dibilang kecil, dan bisa dilahirkan pervaginam dengan aman. Pinggir plasenta berada kira-kira 3 atau 4 cm diatas pinggir pembukaan, sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir.
3. Etiologi
Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. Sinopsis Obstetri. 2001. Jakarta. Beberapa faktor dan etiologi dari plasenta previa tidak diketahui. Tetapi diduga hal tersebut berhubungan dengan abnormalitas dengan asal dari vaskularisasi endometrium yang mungkin disebabkan oleh timbulnya parut akibat trauma operasi/infeksi. Perdarahan berhubungan dengan adanya perkembangan segmen bawah uterus pada trimester ketiga. Plasenta yang melekat pada area ini akan rusak akibat ketidakmampuan segmen bawah rahim. Kemudian perdarahan akan terjadi akibat ketidakmampuan segmen bawah rahim untuk berkonstruksi secara adekuat. Faktor risiko plasenta previa termasuk:
a. riwayat plasenta previa sebelumnya
b. Riwayat seksio sesarea
c. Riwayat aborsi
d. Riwayat kehamilan ganda
e. Umur ibu yang telah lanjut, wanita lebih dari 35 tahun
f. Multiparitas, apalagi bila jaraknya singkat. Secara teori plasenta yang baru berusaha mencari tempat selain bekas plasenta berikutnya.
g. Adanya gangguan anatomis/tumor pada rahim. Sehingga mempersempit permukaan bagi penempatan plasenta.
h. Adanya jaringan rahim pada tempat yang bukan seharusnya. Misalnya dari indung telur setelah kehamilan sebelumnya atau endometriosis.
i. Adanya trauma selama kehamilan
j. Social ekonomi rendah/gizi patofisiologi dimulai dari usia kehamilan 30 minggu segmen bawah uterus akan terbentuk dan mulai melebar serta menipis.
k. Mendapat tindakan kuretase. Dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah uterus akan lebih melebar lagi dan serviks mulai membuka.
Apabila plasenta tumbuh pada segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat disitu tanpa terlepasnya sebagian plasenta dari dinding uterus. Pada saat itu mulailah terjadi perdarahan. Darah yang keluar berwarna merah segar, berlainan dengan darah yang disebabkan oleh solusio plasenta yang berwarna kehitam-hitaman. Sumber perdarahannya adalah sinus uterus yang sobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta.
4. Patofisiologi
Perdarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 10 minggu saat segmen bawah uterus membentuk, melebar serta menipis, umumnya terjadi padatrismester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan servik menyebabkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal.
Perdarahan tidak dapat dihindari karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak sebagaimana serabut otot uterus yang menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini daripada pada plasenta letak rendah yang mungkin baru berdarah setelah persalinan dimulai.
Anamnesis perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 28 minggu berlangsung tanpa rasa nyeri, berwarna merah segar, tanpa alasan terutama pada multigravida. Banyaknya perdarahan tidak dapat dilihat dan dinilai dari anamnesa, melainkan dari pemeriksaan hematokrit. Pemeriksaan luar bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul. Sering disertai dengan kelainan letak janin, seperti letak lintang atau letak sungsang.

5. Tanda dan gejala
Menurut Departemen Kesehatan RI. 2000. Jakarta. Gejala Utama Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang berwarna merah segar, tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri.
a. Gejala Klinik
1) Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.
2) Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit.
3) Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang.
4) Bagian terbanyak janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin letak janin (letak lintang atau letak sungsang)
5) Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan, sebagian besar kasus, janinnya masih hidup.
6. Komplikasi
Pada ibu dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia karena perdarahn. Plaentitis, dan endometritis pasca persalinan. Pada janin biasanya terjadi persalinan premature dan komplikasinya seperti asfiksia berat.
7. Diagnosis
Untuk mendiagnosis perdarahan diakibatkan oleh plasenta previa diperlukan anamnesis dan pemeriksaan obstetrik. Dapat juga dilakukan pemeriksaaan hematokrit. Pemeriksaan bagian luar terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul. Apabila presentasi kepala, biasanya kepalanya masih terapung diatas pintu atas panggul atau mengolah kesamping dan sukar didorong kedalam pintu atas panggul.
Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar. 1998. Jakarta. Sering disertai dengan kelainan letak janin, seperti letak lintang atau letak sungsang. Pemeriksaan inspekulo bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan serviks atau vagina seperti erosro porsionis uteri, karsinoma porsionis uteri polipus serviks uteri, varises vulva dan trauma. Apabila perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum adanya plasenta previa harus dicurigai. Membandingkan diagnosis plasenta dengan solusio plasenta.
8. Penatalaksanaan umum
Sebelum dirujuk, anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap kekiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut( misalnya batuk, mengedan karena sulit buang besar ) perhatikan : tidak dianjurkan untuk pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum sebelum tersedia persiapan untuk seksio sesarea.

a. Pentalaksanaan di rumah pada kasus plasenta previa
Paseien dianjurkan harus istirahat ditempat tidur. Jika perdarahan banyak pasien dianjurkan untuk tidur miring atau menggunakan bantal bawah pinggul kanannya untuk mencapai agar panggul miring dan menghindari supine hypotensive syndrome. Perdarahan hebat yang terjadi akan memperlihatkan kondisi pucat, berkeringat, gelisah, merasa haus, denyut nadi meningkat dan tekanan darah menurun.
b. Penatalaksanaan di RS
Dirumah sakit ibu harus berbaring kadang-kadang perdarahan terjadi setelah coitus kemungkinan adanya riwayat spoting. Pada pemeriksaan abdomen akan teraba lunak dengan ukuran sesuai umur kehamilan. Sulit untuk membedakan antara plasenta previa dengan abrupsio plasenta. Abrupsio plasenta ada hubungan dengan preeklmsia dimana dengan presentasi dan fiksasi kepala janin normal. Demikian tidak adanya preeklmsia dan adanya beberapa ketidaknormalan yang ditemukan merupakan bukti terjadinya plasenta previa. Mungkin dibutuhkan pengkateteran. Darah diperiksa kadar hemoglobin dan dilakukan uji cleihauer jika resus negative dan setidaknya 2 kantong darah harus tersedan ketentuania.

c. Observasi
Pemantauan suhu, nadi, tekanan darah dan denyut jantung janin harus dilakukan. Nadi dan tekanan darah dicatat lebih sering dengan ketentuan tiap seperempat jam jika perdarahan berlanjut. Denyut jantung janin harus selalu dipantau dengan cardiotocography jika perdarahan menetap. Urin diperiksa kadar protein ju=ika perdarahan hebat, diberikan pada infus intra vena dapat dimulai jika perdarahan menetap dan dipertahankan sampai perdarahan berhenti. Wanita tersebut harus ditempat tidur sampai perdarahan berhenti.
B. Teori Manajemen Varney
Varney ( 1997 ) menjelaskan bahwa proses manajemen merupakan proses pemesahan masalah yang ditemukan oleh perawat-bidan pada awal 1970-an. Proses ini memperkenalkan sebuah metode dengan pengorganisasian pemikiran dan tindakan-tindakan dengan urutan yang logis dan menguntungkan baik bagi klien maupun bagi tenaga kesehatan. Proses ini menguraikan bagaimana perilaku yang diharapkan dari pemberi asuhan. Proses manajemen ini bukan hanya terdiri dari pemikiran dan tindakan saja melainkan juga pemeriksaan pada setiap langkah agar pelayanan yang komprehensif dan aman dapat tercapai. Dengan demikian proses manajemen harus mengikuti aturan yang logis dan memberikan pengertian yang menyatakan pengetahuan, hasil temuan dan penilaian yang terpisah-pisah menjadi satu kesatuan yang berfokus pada manajemen klien.
Proses manajemen terdiri dari 7 langkah yang berurutan dimana setiap langkah disempurnakan secara periodic. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu kerangan lengkap yang dapat diuraikan lagi menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut :
1. Langkah I : Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah pertama ini dilakukan pekerjaan dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap, yaitu :
a. Riwayat kesehatan
b. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhannya
c. Meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya
d. Meninjau data laboratorium dan membandingkannya dengan hasil studi.
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan denga kondisi klien. Bidan mengumpulkan data dasar awal yang lengkap. Bila klien menglami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter dalam manajemen kolaborasi bidan akan melakukan konsultasi. Pada keadaan tertentu dapat terjadi langkah pertama akan overlap dengan langkah 5 dan 6 ( atau menjadi bagian dari langkah tersebut ) karena data yang diperlukan diambil dari hasil pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan diagnostic yang lain. Kadang-kadang bidan perlu memakai manajemen dari langkah 4 untuk mendapatkan data dasar awal yang perlu disampaikan kepada dokter.

2. Langkah II : Interprestasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa dan kebutuhan klien berdasarkan interprestasi yang benar atau data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterprestasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnose yang spesifik. Kata masalah dan diagnosa keduanya digunakan, karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnosa tetapi sungguh membutuhkan penanganan yang dituangkan kedalam sebuah rencana asuhan terhadap klien.
Masalah sering berkaitan dengan pengalaman wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan pengarahan. Masalah ini sering menyertai diagnosa. Sebagai contoh diperoleh diagnosa “kemungkinan wanita hamil”, dan masalah yang berhubungan dengan diagnosa ini ialah bahwa wanita tersebut mungkin tidak menginginkan kehamilannya. Contoh lain yaitu wanita pada trimester ketiga merasa takut tidak termasuk dalam kategori nomenklatur standar diagnose. Tetapi tentu akan menciptakan suatu masalah yang membutuhkan pengkajian lebih lanjut dan memerlukan suatu perencanaan untuk mengurangi rasa takut.

3. Langkah III : Mengindentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Pada masalah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diindentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.
Pada langkah ini penting sekali melakukan asuhan yang aman. Contoh seorang wanita dengan pemuaian uterus yang berlebihan tersebut ( misalnya plasenta previa, polihdramnion besar dari masa kehamilan ) kemudian ia harus melakukan perencanaan untuk mengatasinya dan bersiap-siap terhadap kemungkinan tiba-tiba terjadi perdarahan yang disebabkan oleh plasenta previa.

4. Langkah IV : Identifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Mengidentifiksi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota klien tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi menejemen bukan hanya selama asuhan primer periodic atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus-menerus. Misalnya pada waktu wanita tersebut ada dalam persalinan

5. Langkah V : Merencanakan Asuhan Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan lanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau antisipasi pada langkah ini informasi atau data dasar yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya apa yang sudah diidentifikasikan dari kondisi klien atau siapa masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling dan apakah dengan sosial, ekonomi, cultural, atau masalah psikologis.
Dengan perkataan lain, asuhan terhdap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan kesehatan. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dank lien, agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien juga akan melaksanakan rencana tersebut.
Oleh karena itu, pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana bersama klien, kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.
Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan penyuluhan ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetauan dan teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan atau tidak akan dilakukan klien.
Rasional yang berdasarkan asumsi yang tidak sesuai dengan keadaan klien dan pengtahuan teori yang salah atau tidak memadai atau berdasarkan suatu data dasar yang tidak lengkap, bisa dianggp tidak valid dan akan menghasilkan asuhan klien yang tidak lengkap dan berbahaya.

6. Langkah VI : Melaksanakan Perencanaan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau anggota tim kesehatan lainnya, apabila bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.
Pelaksanaan perencanaan bertujuan untuk mengatasi diagnose kebidanan, masalah pasien sesuai rencana yang telah dibuat pelaksanan tersebut hendaknya dibuat secara sistematis agar asuhan kebidanan dapat dengan baik.
7. Langkah VII : Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, meliputi pemenuhan kebutuhan sebagaimana telah didentifikasi didalam diagnose dan masalah, serta mengevaluasi apakah diagnose potensial muncul dan apakah tindakan antisipasi dilakukan. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.
Ditujukan untuk mengevaluasi hasil tindakan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan akan bantuan dan evaluasi hasil tindakan untuk mengatasi masalah yang muncul.

B. Teori Penerapan Manajemen Varney
Manajemen kebidanan adalah pendekatan dan kerangka pikir yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis (KepMenKes, 2007:5).
Penulis menerapkan manajemen kebidanan menurut Hellen Varney yang terdiri dari :
I. Pengkajian
a. Data subyektif
Data subyektif merupakan pernyataan yang disampaikan oleh pasien dan dicatat sebagai kutipan langsung dan hanya mencatat tanda-tanda dan perilaku klien tanpa membuat tafsiran atau kesimpulan, adapun data subyektif terdiri dari :
1) Identitas
Nama ditanyakan untuk mengenal pasien. Umur untuk mengetahui faktor resiko dilihat dari umur pasien. Umur 35 tahun atau lebih mempunyai komplikasi yang lebih besar. Agama berguna memberikan motivasi sesuai dengan kepercayaan pasien. Suku/bangsa digunakan untuk mengetahui faktor bawaan atau ras. Menurut Saifuddin (2010) pendidikan ditanyakan untuk mengetahui tingkat pendidikan yang penting dalam memberikan pendidikan kesehatan. Pekerjaan untuk mengetahui pengaruh pekerjaan terhadap kesehatan pasien. Penghasilan untuk mengetahui status ekonomi pasien.Alamat untuk mengetahui lingkungan tempat tinggal pasien (varney, 2010:31).
2) Keluhan
Apa yang dirasakan pasien dalam kaitannya dengan sering BAK.
3) Data kebidanan
a. Riwayat haid
Menarche untuk mengetahui kematangan fungsi alat reproduksi pada umur berapa. Siklus haid untuk mengetahui siklus pendek, panjang, teratur atau tidak. Keluhan selama haid, HPHT, untuk mengetahui haid terakhir ibu yang berguna untuk menentukan perkiraan bayi lahir (Varney, 2010:33)

b. Riwayat kehamilan sekarang
Mengetahui ibu hamil yang keberapa, pernah aborsi, pernah bersalin atau belum, keluhan yang berhubungan dengan kehamilannya untuk mengetahui status kehamilan ibu, serta imunisasi dan terapi yang telah ibu dapatkan.Keluhan ibu digunakan sebagai dasar dalam memberikan pengobatan (Pusdiknakes, 2003:38).
c. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Mengetahui riwayat kehamilan yang lalu sudah berapa kali ibu hamil, dan apakah pernah mengalami keguguran. Menanyakan berapa jumlah anak yang hidup, serta menanyakan apakah ibu pernah mengalami kesulitan atau komplikasi saat kehamilan, persalinan maupun nifas (Pusdiknakes, 2003:49).
d. Riwayat kontrasepsi
Perlu ditanyakan untuk mengetahui kontrasepsi yang digunakan saat ini, efek samping penggunaan kontrasepsi, konsistensi penggunaan dan lamanya penggunaan kontrasepsi. Serta perlu ditanyakan juga penggunaan alat kontrasepsi seelumnya dan alasan penghentian kontrasepsi tersebut (Varney, 2010:33).

4) Data kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat kesehatan sekarang ditanyakan untuk mengetahui status kesehatan ibu saat ini, apakah ibu sedang menderita suatu penyakit berbahaya seperti penyakit jantung.
Dalam kehamilan perlu ditanyakan karena penyakit jantung dapat menyebabkan abortus, premarturitas, dismaturitas, dan kematian janin dalam rahim. PMS, dalam kehamilan dapat menyebabkan infeksi pada janin, partus prematurus dan dapat terjadi kelainan congenital pada janin. (Pusdiknakes, 2003;50; Mochtar 2008:182).
5) Data kebiasaan sehari-hari
a. Nutrisi
Pemenuhan nutrisi perlu ditanyakan untuk mengetahui asupan gizi ibu, antara lain: bagaimana frekuensi, porsi, kualitas makan sebagai gambaran keadaan ibu sebelum dan sesudah hamil. Jenis dan jumlah minum ibu serta ada keluhan atau tidak dalam makan sehari-hari. Ibu mempunyai kebiasaan pantang makan atau tidak. Wanita hamil sebaiknya mengkonsumsi makanan yang gizinya seimbang, termasuk buah-buahan dan sayur-sayuran (Mochtar, 2008:59).

b. Eliminasi
Pola eliminasi ketika hamil penting diketahui, apakah ada gangguan pola eliminasi. Menggambarkan berapa kali sehari ibu hamil BAK, BAB serta konsistensi fasesnya karena pada saat hamil ibu mengalami perubahan pada system traktus digestivus (Mochtar, 2008:44).
c. Pola seksual
Berapa kali seminggu selama hamil dan sebelum hamil serta ditanyakan apakah ada keluhan (Varney, 2007:33).
d. Personal Hygiene
Personal hygiene perlu ditanyakan untuk mengetahui kebersihan atau hygiene ibu terutama perawatan kulit karena kulit berfungsi untuk ekskresi. Kesehatan ibu hamil terjaga atau tidak dapat dikaji personal hygiennya, berapa kali ibu mandi dalam sehari, keramas dalam seminggu, ganti baju, sikat gigi berapa kali dalam sehari (Mochtar, 2008:61).
e. Istirahat
Istirahat dan tidur perlu diperhatikan dengan baik, karena istirahat dan tidur yang teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani untuk kepentingan perkembangan dan pertumbuhan janin. Bagaimana pola tidur dalam sehari dan apakah ada keluhan (Mochtar, 2008)
f. Pola aktifitas
Pola aktifitas perlu ditanyakan untuk mengetahui aktifitas rutin ibu setiap hari yang dapat mempengaruhi kehamilan. Selama kehamilan ibu boleh melakukan pekerjaan seperti biasa asalkan tidak terlalu melelahkan (Mochtar, 2008)
6) Riwayat psikososial
Riwayat psikososial ditanyakan untuk mengetahui status perkawinan, respon orang tua dan keluarga terhadap kehamilannya, dukungan keluarga, pengambil keputusan dalam keluarga, kebiasaan hidup sehat meliputi kebiasaan merokok, minum obat atau alcohol, beban kerja dan kegiatan sehari-hari, tempat melahirkan dan penolong yang diinginkan (Pusdiknakes, 2004:39).

b. Data obyektif
1. Pemeriksaan umum
Dikaji untuk mengetahui keadaan umum dan kesadaran. Pengukuran Vital Sign sangat diperlukan untuk memantau perkembangan kesehatan ibu hamil. Pemeriksaan vital sign meliputi suhu, nadi, tekanan darah dan pernapasan. Pengukuran berat badan, tinggi badan dan LILA juga perlu dilakukan (Pusdiknakes 2003:44)

2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala : warna rambut, ada lesi atau tidak, dan tekstur rambut apakah distribusi penuh diatas kulit kepala atau tidak. Hal ini digunakan untuk mengetahui tingkat pemenuhan gizi (Morton, 2011:452)
b. Muka : wajah ada cloasma, oedem, pucat atau tidak
c. Mata : keadaan konjungtiva dan skleranya yang dapat terjadi karena adanya gangguan sistematik (Morton, 2011:465)
d. Hidung : apakah sering flu, hidung tersumbat, ada pendarahan hidung, ada gatal atau tidak (bates, 2010).
e. Mulut : pemeriksaan pada mulut dilakukan pada bibir apakah sianosis atau tidak, apakah ada lesi atau stomatitis, warna gusi, lidah, dan pada gigi apakah terdapat caries (Morton, 2011:458)
f. Telinga : simetris atau tidak, ada nyeri tekan atau pembengkakan nodul, lesi, dan serumen atau tidak.
g. Leher : ada benjolan pada leher, pembengkakan kelenjar tiroid, nyeri atau kaku pada leher atau tidak.
h. Dada : perhatikan bentuk payudara, ukuran dan keistimewaannya. Apakah putting payudara menonjol atau masuk kedalam. Apakah ada kolostrum atau cairan yang keluar.

i. KGB Axila
Lakukan pemeriksaan palpasi untuk mengetahui apakah ada masa dan pembesaran kelenjar limfe (Pusdiknakes, 2003:51).
j. Abdomen : dikaji untuk mengetahui apakah abdomen sesuai dengan umur kehamilan, apakah ada bekas operasi, linea ligra dan striae gravidarum. Pada palpasi diketahui presentasi, letak, posisi, taksiran berat janin dan penurunan kepala janin pada umur kehamilan lebih dari 36 minggu. (Pusdiknakes, 2003:51)
k. Panggul : menilai keadaan bentuk panggul apakah terdapat kelainan atau keadaan yang menimbulkan penyulit dalam persalinan (Pusdiknakes, 2003:52).
l. Genetalia : bagaimana keadaan genetalia, vulva, labia mayora, minora, ada pengeluaran pervaginaan atau tidak, misalnya darah atau cairan. Ada pembesaran kelenjar bartholini atau tidak, adanya oedem, varises, dan kebersihannya (Pusdiknakes, 2003:45)
m. Ekstrimitas : pemeriksaan ekstremitas dilakukan untuk mengetahui apakah ada oedem pada jari tangan, kuku jari pucat atau tidak. Memeriksa apakah ada varises, dan memeriksa reflek patella untuk mengetahui apakah terjadi gerakan hypo atau hyper pada kaki.
3. Pemeriksaan penunjang
Dilakukan untuk mengetahui protein urin hemoglobin, glukosa urin (Hyre, 2011:53).

II. Interpretasi Data
Interpretasi data dilakukan identifikasi terhadap diagnose atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnose dan masalah yang spesifik. Rumusan diagnose dan masalah keduanya digunakan, akan tetapi tetap membutuhkan penanganan untuk mengembangkan teori asuhan yang menyeluruh, berdasarkan tanda dan gejala serta perubahan yang terjadi setelah dilakukan pengkajian dan pemeriksaan maka dapat ditentukan diagnose kebidanannya (Hyre, 2011:74-86).

III. Diagnosa Potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah yang lain juga. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil terus mengamati kondisi klien. Bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosis atau masalah potensial benar-benar terjadi (Sulistyawati, Ari, 2009:181).
IV. Antisipasi
Dalam pelaksanaannya terkadang bidan dihadapkan pada beberapa situasi yang memerlukan penanganan segera sehingga bidan harus segera melakukan tindakan segera untuk menyelamatkan pasien. Di sini bidan sangat dituntut kemampuannya untuk dapat selalu melakukan evaluasi keadaan pasien agar asuhan yang diberikan tepat dan aman (Sulistyawati, Ari, 2009:182)

V. Rencana Tindakan
Meliputi strategi desain atau penanganan untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi dalam diagnose kebidanan.

VI. Pelaksanaan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh dilaksanakan secara efisien dan aman. Pelaksanaan disini merupakan pelaksanaan oleh penulis bersama pasien dan keluarga, jadi dalam proses manajemen kebidanan dilakukan oleh bidan dengan rencana yang telah ditetapkan. Walaupun bidan tidak melakukan sendiri tetapi ia memikul tanggungjawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.

VII. Evaluasi
Langkah ini dilakukan evaluasi keaktifan dan asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi didalam diagnose dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya (Pusdiknakes, 2003:35).

C. Teori Berdasarkan Landasan Hukum
Peraturan menteri kesehatan RI NOMOR HK.02.02/MENKES/149/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan dalam bab III.
1. Pasal 8
Bidan dalam menjalankan praktik berwenang untuk memberikan pelayanan meliputi :
a. Pelayanan kebidanan
b. Pelayanan reproduksi perempuan
c. Pelayanan kesehatan masyarakat
2. Pasal 9
a. Pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf a ditujukan kepada ibu dan bayi
b. Pelayanan kebidanan kepada ibu sebagaimana dimaksud ayat (1) diberikan pada masa kehamilan, masa persalinan, masa nifas dan masa menyusui.
c. Pelayanan kebidanan pada bayi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan pada bayi baru lahir normal sampai usia 28 ( dua puluh delapan ) hari.
3. Pasal 10
a. Pelayanan kebidanan kepada ibu sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (2) meliputi :
1) Penyuluhan dan konseling
2) Pemeriksaan fisik
3) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
4) Pertolongan persalinan normal
5) Pelayanan ibu nifas normal
b. Pelayanan kebidanan kepada bayi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (3) meliputi :
1) Pemeriksaan bayi baru lahir
2) Perawatan tali pusat
3) Perawatan bayi
4) Resusitasi pada bayi baru lahir
5) Pemberian imunisasi bayi dalam rangka menjalankan tugas pemerintah
6) Pemberian penyuluhan

4. Pasal 11
Bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf a berwenang untuk :
a. Memberikan imunisasi dalam rangka menjalankan tugas pemerintah
b. Bimbingan senam hamil
c. Episiotomy
d. Penjahitan luka episiotomy
e. Kompres bimanual dalam rangka kegawatdaruratan dilanjutkan dengan perujukan
f. Pencegahan anemia
g. Inisiasi menyusui dini dan promosi air susu ibu ekslusif
h. Resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia
i. Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk
j. Pemberian minum dengan sonde/pipet
k. Pemberian obat bebas, uterotonika untuk postpartum dan manajemen aktif kala III
l. Pemberian surat keterangan kelahiran
m. Pemberian surat keterangan hamil untuk keperluan cuti melahirkan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.